Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Korban Serangan Israel Membanjiri Tenaga Medis di Kota Gaza

Iwa Ikhwanudin • Rabu, 24 September 2025 | 19:33 WIB
Serangan Militer Israel di Kota Gaza.
Serangan Militer Israel di Kota Gaza.

RADAR MALIOBORO – Dokter di salah satu rumah sakit terakhir yang masih terus beroperasi di Kota Gaza mengatakan mereka kewalahan menangani korban luka akibat serangan Israel dan terpaksa melakukan operasi dalam kondisi kotor dengan sedikit atau tanpa anestesi. 

Seorang tenaga medis di Australia yang saat ini bertugas secara sukarela di Rumah Sakit al-Shifa mengatakan kepada BBC bahwa setiap hari terdapat peristiwa korban massal, sementara yang lain mengatakan bagaimana seorang bayi diselamatkan dari tubuh seorang ibu hamil yang terpenggal kepalanya. 

Pasukan Israel kini hanya berjarak 500 meter dari rumah sakit tersebut saat mereka memperluas serangan darat untuk sepenuhnya menduduki Kota Gaza, yang disebut militer Israel sebagai “benteng utama” Hamas. Terdapat beberapa saksi mata yang mengatakan bahwa tank-tank bergerak masuk ke pusat kota dari arah selatan dan barat laut.

 Baca Juga: Hujan Badai Landa Bojong Gede, Bogor, Senin Malam (22 September 2025)

Serangan udara dan artileri Israel yang memicu ledakan terus memaksa puluhan warga Palestina meninggalkan rumah mereka setiap harinya. Rumah Sakit Al-Shifa pernah menjadi kompleks medis terbesar di jalur Gaza. Namun, saat ini rumah sakit itu hancur berantakan, dipenuhi oleh lubang-lubang bom setelah 23 bulan perang. 

Namun, tenaga medis tetap berkerja melebihi batas kemampuannya. Banyak tempat tidur tanpa kasur, obat-obatan menjadi langka, dan korban yang terus berdatangan tanpa henti. 

“Ini hanyalah pembunuhan massal, pembantaian, penyiksaan, mimpi buruk,” kata Dr Nada Abu Alrub, seorang spesialis gawat darurat dari Australia yang bertugas sukarela di rumah sakit tersebut. 

Ia mengatakan bahwa mereka melakukan operasi pada pasien yang terluka parah dengan “anestesi minimal hingga hampir tidak ada sama sekali”. Ia menambahkan bahwa “Tidak ada obat penghilang rasa sakit juga, dengan anggota tubuh mereka menggantung hanya dengan sepotong kulit dan tendon. Jaringan otak keluar. Organ-organ keluar. Ini mengerikan,” tambahnya. 

Di luar rumah sakit, tank-tank Israel terus maju, seiring dengan berlanjutnya serangan darat terhadap Hamas di Kota Gaza. PBB mengatakan lebih dari 320.000 orang telah mengungsi ke selatan sejak saat itu, sementara militer Israel memperkirakan angka tersebut mencapai 640.000.

Militer Israel memerintahkan warga untuk menuju selatan ke area kemanusiaan yang ditunjuk di al-Mawasi, mereka mengatakan akan menyediakan perawatan medis, air, dan makanan. Namun nyatanya, PBB menyatakan bahwa tenda di al-Mawasi terlalu padat dan tidak aman.

Palang Merah Palestina mengatakan stasiun oksigen di Rumah Sakit al-Quds di Tal al-Hawa telah berhenti beroperasi setelah terkena tembakan dari pasukan Israel. Kendaraan militer Israel saat ini berada di gerbang selatan rumah sakit, mencegah siapa pun yang ingin masuk dan keluar. 

Pusat layanan kesehatan primer Masyarakat Bantuan Medis Palestina di Kota Gaza hancur dalam serangan udara Israel dan melukai dua tenaga medis. Pusat tersebut menyediakan layanan transfuse darah, perawatsan trauma, obat-obatan kanker, dan pengobatan penyakit kronis. 

Setidaknya 65.382 orang yang tewas dalam serangan Israel di Gaza sejak militer Israel meluncurkan operasi di Gaza pada 7 Oktober 2023 hingga sampai saat ini. Menurut kementrian kesehatan wilayah tersebut. 

(Hanifah Okta Romadhoni)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#palestina dibom #Rumah Sakit terakhir di Gaza #Rumah Sakit terakhir di Gaza dibom Israel #israel abaikan pbb