RADAR MALIOBORO – Angkatan laut Israel mencegat sejumlah kapal dari Global Sumud Flotilla (GSF) yang berlayar menuju Gaza pada Rabu (1/10/2025) waktu setempat.
Pada Rabu (1/10/2025) pukul 20.20 waktu setempat,radar GSF mendeteksi lebih dari 20 objek asing mendekati armada. Tak lama kemudian, Israel melakukan intimidasi melalui radio dan mengancam akan menghentikan serta menyita kapal-kapal jika armada terus menuju Gaza.
Pukul 20.30 waktu setempat, penyelenggara GSF merilis siaran resmi bahwa beberapa kapal, terutama Alma, Sirius, dan Adara, telah dihentikan secara ilegal dan dinaiki oleh pasukan IDF di perairan internasional.
Israel diduga secara sengaja merusak sistem komunikasi kapal untuk memblokir sinyal darurat dan menghentikan siaran langsung. “Selain kapal-kapal yang telah dikonfirmasi, komunikasi dengan beberapa kapal lain juga telah terputus,” tulis siaran pers GSF.
Menyusul insiden tersebut, kapal Florida dilaporkan dengan sengaja ditabrak oleh pasukan angkatan laut Israel. Sementara Yulara, Meteque, dan kapal lain menjadi sasaran tembakan meriam air. Semua penumpang dilaporkan dalam keadaan selamat.
Dalam waktu yang nyaris berdekatan, Israel dilaporkan mengintersepsi kapal-kapal lain seperti Spectre, Aurora, Dir Yassine, Hio, dan Morgana. Kanal resmi GSF menyebutkan status peserta dan kru masih belum terkonfirmasi.
Menurut keterangan militer Israel, flotilla mendekati zona tempur aktif dan dianggap melanggar blokade laut Gaza. “Setiap bantuan kemanusiaan dapat dikirim melalui jalur yang sah,” demikian pernyataan resmi IDF yang dikutip AP News.
Aktivis asal Swedia Greta Thunberg diketahui berada dalam kapal Alma bersama sejumlah aktivis lain. Kementerian Luar Negeri Israel mengunggah video di X yang memperlihatkan Greta duduk di dek kapal sambil menerima botol air dan jas hujan.
Otoritas Israel menyebut seluruh penumpang diamankan ke pelabuhan Israel. “Greta dan teman-temannya dalam keadaan aman dan sehat,” tulis unggahan tersebut.
Namun, pihak GSF menilai langkah tersebut setara dengan penahanan karena kapal dan penumpangnya dipaksa mengikuti arahan militer.
“Ini adalah serangan ilegal terhadap relawan kemanusiaan yang tidak bersenjata. Kami mendesak pemerintah dan lembaga internasional untuk menuntut keamanan dan pembebasan mereka segera,” tulis penyelenggara GSF melalui kanal resmi Telegram.
Penahanan flotilla ini memicu kritik dari berbagai pihak internasional. Sejumlah pemerintah mendesak Israel menjamin keselamatan para aktivis serta membuka jalur aman bagi distribusi bantuan kemanusiaan.
Pantauan GSF Tracker pada Kamis (2/10/2025) pagi menunjukkan sebanyak 19 kapal telah diintersepsi Israel, menyisakan 25 kapal yang terus berlayar mendekati Gaza.
Hingga saat ini, Israel belum mengumumkan apakah para aktivis, termasuk Greta Thunberg dan Mandla Mandela, akan segera dipulangkan atau menghadapi proses hukum lebih lanjut.
(Maulina)
Editor : Iwa Ikhwanudin