RADAR MALIOBORO – Resmi! Snapchat telah mengumumkan akan mulai kenakan biaya untuk penyimpnan foto dan video, yang memicu reaksi keras dari pengguna yang telah mengumpulkan arsip besar berisi kiriman lama.
Aplikasi berpesanan populer ini telah memungkinkan penggunanya untuk menyimpan konten yang diposting sebekumnya dalam fitur memori sejak diluncurkan pada tahun 2016. Namun, orang-orang mengatakan bahwa yang memiliki memori lebih dari 5 GB sekarang wajib membayar agar dapat tetap tersedia.
Dengan adanya pernyataan inilah, para pengguna media sosial bereaksi dengan cemas dan menuduh perusahaan tersebut serakah.
Snapchat telah mengakui bahwa “tidak pernah mudah untuk beralih dari menerima layanan gratis ke layanan berbayar,” tetapi menyarankan agar “biayanya sepadan” bagi pengguna.
Lebih dari satu triliun memori telah disimpan oleh pengguna sejak diperkenalkan hampir satu dekade lalu. Fitur ini memungkinkan pengguna untuk menyimpan foto dan video yang dibagikan awalnya 24 jam, dan pengguna diminta untuk mengunggahnya kembali sebagai kenangan atau kilas balik di kemudian hari.
Pengguna dengan memori tersimpan lebih dari 5 GB akan diminta untuk meningkatkan ke paket penyimpanan 100 GB, berdasarkan perubahan tersebut. Tingkat penyimpanan yang lebih besar ini akan tersedia bagi pengguna berbayar langganan Snapchat+ dan Snapchat Premium yang lebih mahal.
Perusahaan akan memberikan waktu penangguhan selama 12 bulan bagi mereka yang melebihi batas penyimpanan. Selama masa tenggang ini, pengguna dapat memilih untuk mengunduh konten yang tersimpan ke perangkat pribadi mereka.
Banyak dari para pengguna merasa kebijakan baru nini sangat tidak adil dan rakus dari pihak Snap. Mereka telah memanfaatkan penyimpanan gratis selama bertahun-tahun kini memiliki data melebihi batas dan tiba-tiba dihadapkan pada tagihan yang besar untuk mempertahankan kenangan mereka. Hal ini memaksa mereka memilih antara membayar langganan atau kehilangan arsip foto dan video lama mereka.
Baca Juga: Mengenal Kuliner Otentik Gunungkidul: Dari Thiwul hingga Belalang Goreng
(Hanifah Okta Romadhoni)
Editor : Iwa Ikhwanudin