RADAR MALIOBORO – Ritual Larung Sesaji untuk Nyi Roro Kidul bukan hanya sekadar tradisi, tetapi juga merupakan penghubung penting antara masyarakat dengan dunia spiritual yang penuh mitos dan kepercayaan. Nyi Roro Kidul, yang dikenal sebagai penguasa Laut Selatan, memiliki tempat istimewa dalam hati masyarakat Jawa, terutama di daerah pesisir. Legenda yang melingkupi sosoknya berkisar pada cerita seorang putri cantik bernama Kandita, yang diusir dari istana dan menemukan kekuatan supranatural di dalam samudera. Dalam banyak versi, Kandita dipercaya telah bertransformasi menjadi Ratu Laut yang mampu melindungi dan menjaga kesejahteraan masyarakat pesisir.
Ritual Larung Sesaji diadakan sebagai bentuk penghormatan dan pengabdian kepada Nyi Roro Kidul. Masyarakat percaya bahwa dengan memberikan sesaji yang terdiri dari hasil bumi, makanan, dan benda-benda bernilai, mereka dapat mempertahankan hubungan baik dengan sang penguasa laut. Sesaji ini tidak hanya sekadar persembahan, tetapi melambangkan rasa syukur atas rezeki yang diberikan oleh laut. Setiap komponen dalam sesaji memiliki makna tersendiri; misalnya, kepala hewan yang dilarung melambangkan pengorbanan dan penghormatan, sementara buah-buahan melambangkan kesuburan dan kemakmuran.
Prosesi ritual dimulai dengan persiapan yang melibatkan seluruh komunitas. Masyarakat akan berkumpul untuk menyiapkan sesaji, yang biasanya dilakukan dengan penuh khidmat dan semangat kolektif. Arak-arakan menuju pantai sering kali dimeriahkan dengan musik tradisional, tarian, dan pertunjukan seni yang mencerminkan kebudayaan lokal. Saat sesaji dilarung ke laut, doa-doa dipanjatkan, memohon agar Nyi Roro Kidul memberikan perlindungan, menghindarkan mereka dari bencana, dan memberkati kehidupan mereka dengan hasil tangkapan yang melimpah.
Kepercayaan terhadap Nyi Roro Kidul juga mencakup berbagai mitos dan larangan. Salah satu larangan yang paling terkenal adalah tidak mengenakan pakaian berwarna hijau di pantai selatan. Warna ini dianggap sebagai warna kesukaan Nyi Roro Kidul, dan pelanggaran terhadap larangan ini dapat mengakibatkan nasib buruk. Masyarakat sering berbagi cerita tentang penampakan sosok wanita cantik berpakaian hijau yang muncul di tepi laut, menambah aura misterius di sekitar sosok Nyi Roro Kidul.
Melalui ritual Larung Sesaji, masyarakat tidak hanya mengungkapkan rasa syukur dan permohonan, tetapi juga memperkuat ikatan sosial dan komunitas. Kegiatan ini menciptakan rasa solidaritas dan kebersamaan di antara warga, menjadikan ritual ini lebih dari sekadar upacara, tetapi juga sebagai perayaan kehidupan dan hubungan harmonis antara manusia dengan alam. Dengan pengelolaan yang bijaksana, ritual ini diharapkan dapat terus dilestarikan, menjadi jembatan antara warisan budaya dan tantangan masa depan.
(Laeli Musfiroh)
Editor : Iwa Ikhwanudin