RADAR MALIOBORO – Jurnalis Italia Lorenzo D’Agostino, yang ikut dalam misi Global Sumud Flotilla (GSF), menulis surat terbuka untuk rakyat Israel tepat saat armada kemanusiaan itu dikabarkan diintersepsi oleh pasukan Israel di perairan internasional.
Surat tersebut dipublikasikan pertama kali oleh Voice Over Foundation pada Rabu (1/10/2025) dan kemudian dibagikan langsung oleh Lorenzo melalui akun X pribadinya pada Kamis (2/10/2025).
“Dengan intersepsi armada yang sedang terjadi, saya memanfaatkan sisa waktu online saya untuk membagikan surat ini kepada rakyat Israel,” tulisnya dalam unggahan di X.
Global Sumud Flotilla berangkat dari Barcelona sebulan sebelumnya, membawa perwakilan dari berbagai negara mulai dari jurnalis, tenaga medis, dan aktivis. Tujuan misi ini adalah untuk menembus blokade laut Gaza dan menyalurkan bantuan kemanusiaan secara langsung.
Namun pada Kamis dini hari, kapal mereka disergap oleh angkatan laut Israel di perairan internasional. Sejumlah peserta, termasuk aktivis Greta Thunberg, dilaporkan mengalami perlakuan kasar saat ditahan oleh Israel.
Dalam surat terbukanya, D’Agustino menulis bahwa ia mengikuti misi itu bukan sebagai aktivis, melainkan sebagai jurnalis yang muak menyaksikan penghancuran kemanusiaan di Gaza.
“Saya bergabung sebagai jurnalis, bukan aktivis. Tapi setelah sebulan di laut, di mana Israel memperlakukan kami semua tanpa pandang bulu, seperti pendukung teroris, saya tidak yakin perbedaan itu masih berarti,” tulisnya.
“Bagaimana masyarakat Israel bisa diam saja dan merayakan, sementara warga Palestina sengaja disiksa kelaparan hingga mati, dan ratusan relawan kemanusiaan tak bersenjata yang berlayar untuk membawa makanan bagi mereka ditangkap di perairan internasional dan ditahan sebagai teroris?”
Tulisan D’Agustino juga membandingkan kondisi masyarakat Israel hari ini dengan masyarakat Italia di masa fasisme. Ia menyerukan kepada rakyat Israel agar tidak diam terhadap kekerasan dan meminta mereka untuk menolak menjadi bagian dari penindasan, bahkan jika itu berarti menentang pemerintah sendiri.
“Belum terlambat bagi sebuah bangsa untuk menyelamatkan jiwanya,” tulisnya. “Italia pernah melakukannya. Setelah ikut dalam kejahatan besar abad ke-20, sebagian kecil rakyat bangkit dan menolak. Mereka menyelamatkan bangsanya sendiri,”
Di Italia sendiri, aksI solidaritas terhadap Gaza masih terus berlangsung. Protes terjadi secara besar-besaran dan diikuti berbagai lapisan masyarakat yang juga menuntut pembebasan sejumlah anggota flotilla yang masih ditahan oleh Israel.
Tak hanya D’Agustino, sejumlah aktivis dari berbagai negara juga menyampaikan kesaksiannya. Dalam laporan AP News, jurnalis Italia Saverio Tommasi menyebut bahwa tentara Israel menarik obat-obatan dan memperlakukan mereka “seperti monyet.”
Laporan Al Jazeera menyebut bahwa Greta Thunberg “ditarik rambutnya dan dipaksa mencium bendera Israel,” menurut kesaksian Ersin Çelik dari Turki. Dari pihak Malaysia, seorang aktivis menyatakan bahwa mereka diborgol, dipaksa telungkup di lantai, dan harus menahan haus karena tidak mendapat air bersih.
D’Agustino juga menulis dalam media Italia il manifesto bahwa barang-barang yang berkaitan dengan Palestina dirampas dan dibuang, sementara sidang interogasi dilakukan tanpa pengacara. Ia mengaku sempat ditahan bersama mantan wakil menteri luar negeri Turki, yang tangannya patah dan tidak diberi perawatan medis.
Di sisi lain, pemerintah Israel membantah keras tuduhan penyiksaan. Kementerian Luar Negeri Israel menyebut tuduhan tersebut sebagai “brazen lies” (kebohongan terang-terangan) dan menegaskan bahwa seluruh tahanan mendapat hak sesuai hukum.
Namun Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, justru membenarkan adanya perlakuan keras di penjara. Ia menyatakan bahwa aktivis flotilla “layak diperlakukan seperti teroris” dan bahwa Israel bangga atas kondisi penahanan keras mereka.
Israel juga menyebut bahwa kapal flotilla tidak membawa bantuan kemanusiaan nyata dan menyebut misinya sebagai “provokasi politik.” Hingga kini, lembaga hukum hak asasi manusia seperti Adalah masih menuntut investigasi independen terhadap dugaan pelanggaran tersebut.
(Maulina)
Editor : Iwa Ikhwanudin