RADAR MALIOBORO – Malam itu, Jumat 26 September 2025. Udara di Playen, Gunungkidul, terasa lembap setelah hujan sore. Jalan di timur Jembatan Bunder, jalur menuju Wonosari, masih dilintasi kendaraan meski sudah lewat pukul tujuh malam. Di tanjakan itu, sebuah Toyota Kijang Super AB 1548 KS tampak tersendat. Mesin meraung sejenak, lalu mati. Kendaraan tak lagi mampu menanjak. Di balik kemudi, seorang bapak asal Kotagede, Yogyakarta, Dwi Suhardono (55).
Baca Juga: Mitos Bunga Sedap Malam Dari Gandeng Makhluk Halus hingga Keberuntungan
Mobil mogok di tanjakan bukanlah perkara sepele. Dalam situasi itu, sang bapak turun dari kursi pengemudi. la berjalan ke belakang, mungkin hendak memeriksa kondisi roda, atau mencoba memberi penahan agar mobil tak meluncur. Ada kemungkinan ia berusaha mendorong, berharap bisa menghidupkan mesin kembali. Namun tak ada saksi yang benar-benar tahu apa yang ia lakukan saat itu. Yang pasti, beberapa detik kemudian, tragedi tak terhindarkan. Mobil yang tadi terdiam mendadak bergerak mundur. Berat kendaraan tak mampu ditahan.
Baca Juga: Fakta Sejarah Benteng Vredeburg, Peninggalan Belanda yang Masih Berdiri Kokoh di Yogyakarta
Laju makin cepat di jalan menurun. Sang bapak yang berada tepat di belakangnya tak sempat menghindar. Dalam hitungan detik, tubuhnya tertabrak, lalu terlindas oleh mobilnya sendiri. Suara benturan keras membuat warga sekitar keluar rumah. Mereka menemukan sang bapak sudah tergeletak di jalan, dalam kondisi tak bernyawa. Mobil yang menabraknya berhenti tak jauh dari tubuh korban.
Baca Juga: Waspada, Terlalu Sering Makan Ramen Bisa Tingkatkan Risiko Kematian Dini
Kepolisian Playen segera mendapat laporan. Sirene ambulans dan mobil patroli memecah sunyi malam. Petugas datang melakukan olah TKP, sementara tim medis memastikan kondisi korban. Tak ada lagi yang bisa dilakukan, nyawa sang bapak sudah pergi. Dengan hati-hati, jasad korban dievakuasi. Warga sekitar ikut membantu, beberapa menyalakan lampu jalan darurat agar proses berjalan lancar. Malam itu suasana hening. Tidak ada suara selain bisik lirih dan doa yang terucap.
Baca Juga: Diborgol dan Ditutup Matanya, Ammar Zoni Dipindah ke Nusakambangan, Biar Kapok!
Jenazah lalu dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan awal, sebelum akhirnya diserahkan kepada pihak keluarga. Tangis pun pecah saat kabar itu sampai di rumah duka di Kotagede, Yogyakarta. Seorang bapak yang hanya berniat melanjutkan perjalanan, justru pulang untuk terakhir kalinya dalam keadaan terbujur kaku. Peristiwa ini menyisakan luka yang dalam bagi keluarga dan menjadi pengingat pahit bagi kita semua, bahwa maut bisa datang dalam bentuk yang sederhana, tanpa aba-aba, bahkan dari kendaraan yang kita kendarai sendiri.
(Laeli Musfiroh)