Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Kabar Duka! Penulis Buku I Want to Die but I Want to Eat Tteokbokki, Baek Se-hee, Berpulang Pada Usia 35 Tahun

Iwa Ikhwanudin • Sabtu, 18 Oktober 2025 | 15:40 WIB
Potret mendiang Baek Se-hee. (Korea Organ Donation Agency)
Potret mendiang Baek Se-hee. (Korea Organ Donation Agency)

RADAR MALIOBORO – Penulis asal Korea Selatan, Baek Se-hee, yang dikenal lewat buku I Want to Die but I Want to Eat Tteokbokki, dikabarkan telah menghembuskan napas terakhir pada usia 35 tahun.

Menurut Korea Organ Donation Agency, Se-hee berada dalam kondisi brain death (mati otak) pada Kamis (16/10/2025) di Rumah Sakit Ilsan, yang berada di bawah naungan Badan Asuransi Kesehatan Nasional Korea.

Dari proses donasi organ tersebut, Se-hee diketahui menyumbangkan jantung, paru-paru, hati, serta kedua ginjal kiri dan kanan. Berkat donor tersebut, lima nyawa dilaporkan berhasil diselamatkan.

Media Korea Newsis melaporkan bahwa dalam rilis pers institusi donasi, Se-hee disebut sebagai “penuls best-seller” yang melalui donasi organnya telah “meninggal sambil menyelamatkan nyawa orang lain.”

Sementara itu, penyebab ia sampai pada kondisi mati otak belum diungkap.

Media Korea MK juga memberitakan bahwa Se-hee yang menderita dysthymia atau gangguan depresi persisten dan menjalani terapi, telah dikenal luas karena buku memoir tersebut yang berisi percakapan jujur antara dirinya dan psikiaternya.

I Want to Die but I Want to Eat Tteokbokki juga berisi refleksi pribadi Baek Se-hee mengenai kecemasan, rasa tidak percaya diri, hubungan sosial, dan usahanya dalam memahami dirinya sendiri. Buku tersebut awalnya dikumpulkan lewat crowdfunding di platform Korea, kemudian dicetak mandiri, sebelum akhirnya diambil oleh penerbit besar untuk distribusi yang lebih luas.

Memoir ini lalu menjadi best-seller dan telah diterjemahkan dan diterbitkan ke lebih dari 25 negara. I Want to Die but I Want to Eat Tteokbokki mendapat banyak sorotan internasional. Bahkan di Inggris, karya Se-hee terjual hingga 100.000 eksemplar dalam enam bulan sejak dirilis.

Se-hee lalu menulis kelanjutan dari memoir tersebut, I Want to Die but I Still Want to Eat Tteokbokki, yang merupakan lanjutan dialognya dengan psikiater dan kondisi mental yang ia alami. Ia juga sempat berkolaborasi dengan para penulis lain, seperti dalam buku No One Will Ever Love You as Much as I Do (2021) dan I Want to Write, I Don’t Want to Write (2022).

Sang penulis sendiri didiagnosis dengan dysthymia selama sekitar 10 tahun sebelum buku itu ditulis. Ia mengalami kecemasan terus-menerus, overthinking, rasa rendah diri, dan kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain karena rasa malu dan takut dihakimi.

Dalam bukunya, Se-hee juga mencatat sesi terapi bersama psikiater selama sekitar 12 minggu dengan disertai dialog yang jujur serta esai reflektif tambahan.

Dalam wawancara dengan The Korea Herald, Se-hee pernah mengatakan, “Bahkan di antara bahasa dan budaya yang berbeda, saya menyadari bahwa perasaan ‘hati yang terluka’ sama di mana-mana. Menyadari bahwa begitu banyak orang memiliki luka batin yang dalam dan butuh keberanian besar hanya untuk mengatakan, ‘Saya tidak baik-baik saja,’ sungguh membuat saya merenung.”

Salah satu detail yang paling sering disebut Se-hee yaitu makanan favoritnya, tteokbokki. Ia menggunakan makanan itu sebagai semacam simbol keinginan kecil yang bisa memberikan kenyamanan di saat sulit.

Karya Baek Se-hee telah menguatkan banyak orang. Lewat I Want to Die but I Want to Eat Tteokbokki, ia memberikan keberanian untuk bertahan meski hanya lewat hal-hal kecil yang membuat hidup terasa lebih hangat di saat-saat sulit.

Selamat jalan, Baek Se-hee.

(Maulina)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#penulis #Baek Se hee #meninggal #korea selatan #buku