RADAR MALIOBORO — Universitas Gadjah Mada (UGM) tak hanya dikenal sebagai kampus ternama di Indonesia, tetapi juga menyimpan berbagai kisah mistis yang beredar di kalangan mahasiswa. Salah satu yang paling terkenal adalah urban legend di Bundaran Teknik UGM, yang konon bisa memanggil makhluk halus jika seseorang menyanyikan lagu “Gugur Bunga” di tempat tersebut.
Bundaran Teknik UGM merupakan ikon yang berada di kawasan Fakultas Teknik UGM, Sleman, Yogyakarta. Lokasi ini menjadi titik pertemuan beberapa jalan utama di lingkungan kampus dan sering dilalui oleh mahasiswa yang beraktivitas di sekitar area teknik. Namun di balik suasananya yang rindang dan tenang, beredar cerita menyeramkan yang telah menjadi bagian dari cerita rakyat dan mahasiswa.
Menurut cerita yang berkembang, siapa pun yang menyanyikan lagu perjuangan Gugur Bunga di sekitar bundaran pada malam hari, terutama saat kampus sudah sepi, dipercaya akan mengalami kejadian aneh. Beberapa mahasiswa mengaku pernah mendengar suara langkah kaki tak terlihat, bayangan samar, atau tiba-tiba merasakan hawa dingin yang menusuk. Ada juga yang mengatakan pernah melihat pahlawan yang gugur di dekat monumen tengah bundaran.
Lagu Gugur Bunga sendiri memang memiliki nuansa haru dan penghormatan terhadap para pahlawan yang gugur di medan perang. Konon, karena lagu ini sering dikaitkan dengan kematian dan penghormatan arwah, getaran emosionalnya dipercaya mampu memanggil energi-energi tak kasatmata di sekitar tempat yang memiliki sejarah atau aura kuat.
Meski belum ada bukti ilmiah yang mendukung kisah tersebut, urban legend ini terus hidup dari mulut ke mulut di antara mahasiswa baru dan alumni. Tak sedikit yang penasaran mencoba membuktikan kebenarannya, meski sebagian besar akhirnya mengaku tak berani melakukannya sendirian.
Terlepas dari benar tidaknya kisah mistis itu, Bundaran Teknik UGM tetap menjadi salah satu simbol penting di kampus tertua di Indonesia ini. Kisah-kisah seperti ini justru memperkaya budaya dan tradisi lisan di lingkungan akademik, menciptakan warna tersendiri dalam kehidupan mahasiswa UGM yang penuh cerita dan kenangan.
(Dela Apriyanti)
Editor : Iwa Ikhwanudin