RADAR MALIOBORO — Setiap memasuki malam 1 Suro, Pantai Parangtritis di Bantul, Yogyakarta, selalu menjadi magnet bagi ribuan pengunjung yang ingin menyaksikan atau mengikuti ritual adat penuh makna. Malam Suro yang bertepatan dengan tahun baru Jawa ini dipercaya sebagai waktu sakral untuk introspeksi diri dan membersihkan batin.
Tak sembarang orang bisa mengikuti ritual khusus di kawasan ini. Ada sejumlah syarat yang wajib dipatuhi peserta sebelum mengikuti prosesi adat di malam Suro. Berdasarkan keterangan juru kunci Parangtritis, peserta ritual diwajibkan menjaga kesucian lahir dan batin. Artinya, mereka tidak boleh mengonsumsi daging, minuman keras, atau melakukan hal-hal yang dianggap menodai kesucian selama beberapa hari sebelum upacara dimulai.
Selain itu, peserta biasanya mengenakan pakaian serba hitam atau putih polos tanpa perhiasan, sebagai simbol kesederhanaan dan penghormatan terhadap leluhur. Peserta juga tidak diperbolehkan berbicara kasar atau menunjukkan sikap sombong. Semua harus dilakukan dengan niat tulus dan hati bersih.
Ritual dimulai dengan doa bersama dan tirakatan di pinggir pantai. Banyak warga yang membawa sesaji berupa bunga setaman, kemenyan, nasi tumpeng, dan air suci. Setelah doa selesai, sebagian peserta melarung sesaji ke laut selatan sebagai bentuk penghormatan kepada penguasa laut, Kanjeng Ratu Kidul.
Pihak keamanan dan pengelola Parangtritis juga selalu mengingatkan pengunjung untuk menjaga ketertiban dan tidak menyalahartikan kegiatan tersebut sebagai hal mistis semata. Ini bagian dari tradisi dan warisan budaya Jawa yang harus dilestarikan.
Malam Suro di Parangtritis tidak hanya menjadi ajang spiritual, tetapi juga daya tarik wisata budaya yang terus menghidupkan pesona mistis dan kearifan lokal pesisir selatan Yogyakarta.
(Dela Apriyanti)
Editor : Iwa Ikhwanudin