Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Maestro Wayang Ki Anom Suroto Berpulang, Mengenal Gagrak Surakarta yang Jadi Ciri Khasnya

Iwa Ikhwanudin • Kamis, 23 Oktober 2025 | 19:31 WIB
Potret dalang Ki Anom Suroto dalam salah satu pagelaran wayang. (Instagram/@anomsuroto48)
Potret dalang Ki Anom Suroto dalam salah satu pagelaran wayang. (Instagram/@anomsuroto48)

RADAR MALIOBORO – Dunia seni pedalangan Indonesia kehilangan salah satu maestro besar. Dalang senior Ki Anom Suroto menghembuskan napas terakhirnya pada Kamis (23/10/2025), dalam usia 77 tahun. Beliau dikenal luas sebagai pelestari gagrak (gaya) Surakarta dalam pertunjukan wayang kulit dan telah berkiprah di dunia pewayangan sejak usia muda.

Baca Juga: Tips Ala Honda Istimewa, Semakin Irit Dengan Berkendara Secara Benar

Selain aktif mendalang, beliau juga menjadi guru bagi banyak dalang muda dan secara rutin menggelar forum kritik serta pentas di kediamannya setiap Rabu Legi, sesuai dengan hari kelahirannya. Acara itu kemudian dinamakan Rabu Legen yang masih diadakan hingga sekarang.

Baca Juga: Gus Miftah: Pesantren Adalah Benteng Terakhir Keutuhan Bangsa Indonesia

Ki Anom Suroto, yang memiliki nama lengkap Ki KRT H. Lebdo Nagoro Anom Suroto, lahir di Juwiring, Klaten, Jawa Tengah pada 11 Agustus 1948. Ia berasal dari keluarga dalang. Ayahnya, Ki Sadiyun Harjadarsana adalah seorang dalang terkenal di masanya. Sejak muda, Ki Anom telah menekuni dunia wayang dan sempat belajar langsung dari tokoh besar Ki Nartosabdho.

Baca Juga: Menguak Jejak Para Pendiri Bangsa: Ini Dia Tokoh-Tokoh di Balik Ikrar Suci Sumpah Pemuda 1928

Kariernya mulai dikenal luas pada akhir 1960-an ketika ia tampil di RRI Surakarta, kemudian melesat hingga ke pentas-pentas mancanegara. Ia tercatat pernah mendalang di lima benua dan memperoleh Satya Lencana Kebudayaan dari Presiden Soeharto pada tahun 1995.

Sebagai maestro yang identik dengan gaya Surakarta, Ki Anom selalu menjaga pakem dan keanggunan gagrak ini dalam setiap pementasan.

Baca Juga: Rahasia Bikin Kopi Klotok Otentik: Resep Sederhana dengan Aroma Khas Kayu Bakar di Rumah

Gagrak Surakarta sendiri merupakan gaya wayang kulit yang berkembang di wilayah Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat serta Pura Mangkunegaran, dan muncul setelah pembagian Kerajaan Mataram melalui Perjanjian Giyanti pada 1755. Gaya ini dikenal memiliki karakter yang halus dan mencerminkan estetika keraton.

Dari segi bentuk, wayang gaya Surakarta memiliki proporsi tubuh yang cenderung lebih tinggi dan ramping dibanding gaya lainnya seperti Yogyakarta dan Banyumas. Wayang terbuat dari kulit kerbau berkualitas tinggi yang disungging (dilukis) hawancawarna (warna-warni) menghasilkan tampilan berkilau dan mewah.

Baca Juga: Festival Cahaya Diwali: Ragam Tradisi dan Kemeriahan Diwali, Festival Tahunan yang Mencerahkan Seluruh India

Beberapa bagian wayang, terutama bagian siku, terkadang diberi tambahan logam mengilap atau inten untuk memperkuat keindahannya. Detail ornamen wayang gaya Surakarta juga sangat halus. Dari bentuk mata, hidung, mulut, dan busana masing-masing tokoh dirancang dengan teliti agar mencerminkan watak dan kedudukan sosialnya.

Sumber cerita yang digunakan dalam Gagrak Surakarta berasal dari Serat Pustaka Raja Purwa, kumpulan kisah yang bersumber dari epos Mahabarata dan Ramayana yang detailnya telah diadaptasi dengan nilai dan pandangan hidup masyarakat Jawa.

Baca Juga: Peluang Emas CPNS 2026: Daftar 5 Formasi Prioritas yang Dipastikan Banjir Pelamar dan Diprediksi Bikin Panas Persaingan

Dari segi alur, pementasan Gagrak Surakarta disusun berdasarkan tiga pathet atau tahapan waktu pertunjukan: Pathet Nem, Pathet Sanga, dan Pathet Manyura. Masing-masing bagian menandai perkembangan cerita dari awal hingga klimaks, sehingga strukturnya terasa sistematis. 

Dalam pementasan, dalang gaya Surakarta memanfaatkan dua bunyi utama, yaitu keprakan dan dhodhogan. Keprakan adalah suara yang dihasilkan dari hentakan kaki dalang yang menjejakkan cempala kaki pada kecrek, atau empat plat logam bernada 6, 2, 3, dan 1. Sedangkan dhodhogan muncul ketika cempala tangan dipukulkan pada kotak wayang. 

Baca Juga: Mitos di Balik Pisang Goreng Kopi Klotok Jogja: Mengapa Tak Boleh Dibawa Pulang?

Keprakan dan dhodhogan ini memiliki fungsi yang sama, yaitu menandakan aba-aba kepada para pengrawit (pemain gamelan) dan untuk menghasilkan efek estetika bunyi dalam pementasan wayang.

Adegan-adegan dalam dalam Gagrag Surakarta disajikan dengan tempo lembut namun mendalam. Adegan perang, misalnya, biasanya berlangsung lebih lama dibanding pada gaya Yogyakarta.

Baca Juga: Kopi Klotok Kaliurang Menu dan Lokasi, Menawarkan berbagai Menu Pilihan

Dalam segi karakterisasi juga terdapat perbedaan menarik. Misalnya, tokoh Resi Durna dalam Gagrak Surakarta digambarkan sebagai sosok bijaksana dan berwibawa, sementara dalam Gagrak Yogyakarta sering ditampilkan licik dan antagonis.

Kedalaman artistik Gagrak Surakarta juga tampak pada keselarasan antara gerak wayang (sabet), nyanyian dalang (sulukan), dan iringan gamelan (gendhing). Karena itu, gaya Surakarta kerap disebut sebagai gaya pementasan yang paling lengkap dan teratur di antara berbagai gaya wayang kulit di Jawa. Bahkan, di lingkungan keraton, gaya ini berkembang dalam dua aliran utama, yaitu Kasunanan dan Mangkunegaran. Masing-masing memiliki pakem sendiri dalam pengaturan iringan dan struktur ceritanya.

Baca Juga: Nikmatnya Kopi Klotok Jogja: Harmoni Rasa dan Suasana Pedesaan yang Memikat

Selain itu, tubuh wayang gaya Surakarta yang ramping melambangkan keteguhan dan keluwesan jiwa, serta warna emas pada sunggingan menandakan kemuliaan dan pencerahan batin. Tidak heran bila Gagrak Surakarta dianggap sebagai perwujudan estetika Jawa yang menggabungkan disiplin dan spiritualitas.

Kepergian Ki Anom Suroto meninggalkan duka mendalam bagi dunia seni pewayangan. Namun, warisan beliau dalam menjaga pakem Gagrak Surakarta tetap hidup melalui murid-muridnya dan komunitas pedalangan yang terus berkembang. Lewat dedikasi dan ketelatenannya, beliau menjaga tradisi sekaligus membuktikan bahwa wayang kulit selalu memiliki tempat istimewa di hati masyarakat Indonesia dan dunia.

(Maulina)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#Anom Suroto meninggal #anom suroto #dalang