RADAR MALIOBORO – Tim dari Mesir dan Komite Palang Merah Internasional (ICRC) teah diizinkan untuk mencari jenazah para sandera yang meninggal selama serangan 7 Oktober, otoritas Israel telah mengonfirmasi.
Pemerintah Israel mengatakan bahwa tim tersebut telah diizinkan untuk mencari di luar apa yang disebut “garis kuning” di wilayah yang dikuasai Pasukan Pertahanan Israel (IDF) di Gaza.
Baca Juga: 10 Link Twibbon Hari Sumpah Pemuda 2025 Download Gratis Desain Keren untuk Rayakan 28 Oktober
Secara terpisah pada hari Minggu, media Israel melaporkan bahwa anggota Hamas juga telah diizinkan memasuki wilayah Gaza yang dikuasai IDF untuk membantu pencarian, bersama dengan tim ICRC.
Diketahui, Hamas telah memindahkan 15 dari 28 sandera Israel yang tewas di bawah fase pertama kesepakatan gencatan senjata ditengahi oleh AS, yang mewajibkan Hamas untuk menyerahkan semua jenazah sandera. Kelompok tersebut mengatakan saat ini sedang berkoordinasi dengan otoritas Mesir.
Baca Juga: Makna dan Sejarah Hari Sumpah Pemuda 2025, Momen Lahirnya Semangat Persatuan dan Kebangsaan Indonesia
Donald Trump telah memperingatkan Hamas untuk mengembalikan jenazah-jenazah itu “segera, atau negara-negara lain yang terlibat dalam perdamaian besar ini akan mengambil tindakan”.
Seorang juru bicara Israel mengatakan tim Mesir telah diizinkan bekerja sama dengan ICRC untuk menemukan jenazah tersebut, dan akan menggunakan mesin ekskavator dan truk untuk pencarian di luar “garis kuning”.
Baca Juga: Ajak Jurnalis Jogja Naik Level, ACC dan Berijalan Gelar Workshop Menulis Lebih Cerdas dengan AI
“Garis kuning” menandai batas yang membentang di sepanjang utara, selatan dan timur Gaza yang telah ditarik Israel sebagai bagian dari tahap pertama kesepakatan gencatan senjata. Dan hingga saat ini, Israel belum menyetujui masuknya tim tersebut.
Mesir, bersama dengan Qatar dan Turki, merupakan penandatangan utama rencana perdamaian Gaza yang ditengahi Trump, yang ditandatangani di resor Sharm el-Sheikh, Mesir, awal bulan ini.
Baca Juga: Destinasi Watu Payung, Prambanan, Penyangga Tebing Breksi, Peroleh BKK Dana Keistimewaan Diproyeksikan sebagai Camping Ground
Berita itu akan disambut baik oleh para kerabat yang ingin memberikan mereka pemakaman yang layak.
ICRC bertindak sebagai perantara utama dalam pemulangan sandera (hidup/mati) dari Hamas ke IDF.
Situasi ini menjadi lebih rumit dengan kedatangan tim penggali Mesir di Gaza yang hancur, untuk membantu pencarian jenazah sandera. Hamas mengklaim kesulitan menemukan jenazah di bawah puing-puing dan kini berkoordinasi dengan Mesir.
Baca Juga: Dialog Kebangsaan untuk Indonesia Damai Bersama Sultan Hamengku Buwono X, Tegaskan Pentingnya Persatuan yang Tak Bisa Dibangun Hanya dengan Slogan
Sebaliknya, Israel menuduh Hamas mengetahui lokasi jenazah dan sengaja menunda penyerahan.
Donald Trump mengeluarkan ultimatum 48 jam, mengancam akan adanya tindakan jika jenazah sandera yang mudah dijangkau tidak segera dikembalikan.
Situasi kemanusiaan di Gaza kritis dengan kematian anak-anak yang menunggu evakuasi, sementara Israel memperluas kendali territorial lebih dalam.
Baca Juga: Kunjungan Trump ke Malaysia, Ada Agenda Apa Saja?
Mengenai rencana pasukan internasional untuk keamanan gaza, PM Netanyahu menegaskan Israel memegang hak veto mutlak atas negara mana pun yang bergabung. Menteri Luar Negeri AS Rubio mengonfirmasi banyak negara bersedia, tetapi Israel harus menyetujui (diduga menolak Turki). Pengerahan pasukan ini masih terkendala oleh kurangnya kesepakatan dengan Hamas. Konflik ini telah menewaskan lebih dari 68.519 orang di Gaza.
(Hanifah Okta)