RADAR MALIOBORO – Dalam gemerlap pertunjukan wayang kulit, satu elemen kerap luput dari sorotan namun menyimpan makna paling dalam, gunungan. Bukan hanya sekadar pembuka dan penutup cerita, gunungan adalah peta kehidupan yang dirangkum dalam selembar kayon.
Baca Juga: Badai Melissa Ancam Jamaika: Bencana Terganas 2025 di Ambang Pintu
Berbentuk menyerupai gunungan atau tumpeng, gunungan bukan hanya simbol etika. Namun, ia adalah representasi kosmilogis, tribuwana dunia atas, tengah, dan bawah. Dalam dunia pedalangan, gunungan menjadi titik awal dan akhir, sekaligus penyekat antara babak kehidupan.
Kayon, yang berasal dari kata “kayu”, melambangkan sumber kehidupan. Menurut Sastra Miruda, ia adalah lambing kawruh lahir dan batin. Struktur gunungan terdiri dari palemahan (dunia bawah), lengkeh-genukan (dunia tengah), dan pucuk (dunia atas), mencerminkan perjalanan spiritual manusia menuju kesempurnaan.
Baca Juga: Museum Affandi: Menyusuri Jejak Sang Mestro Seni Seni di Tepian Kali Gajah Wong
Lebih dari itu, gunungan adalah narasi visual. Di dalamnya terdapat simbol-simbol kehidupan, naga sebagai jalan berliku, ayam di atas pohon sebagai penanda waktu, kera sebagai ketangkasan, dan gupala sebagai penjaga gerbang spiritual. Setiap ornament bukan hiasan, melainkan pesan.
Gunungan terdiri dari dua jenis, blumbangan dan gapuran. Gunungan blumbangan ciptaan Sunan Kalijaga, menggambarkan keseimbangan dan kesederhanaan. Sementara gunungan gapuran, warisan Paku Buwana II, lebih megah dan penuh simbol kekuasaan. Keduanya menyampaikan filosofi yang berbeda, namun tetap berakar pada nilai kehidupan.
Baca Juga: Cuka Apel: Rahasia Alami Untuk Sehat dan Cantik
Dalam kitab Wretasancaya Sekar Mandraka abad ke-12, disebutkan bahwa gunung-gunung seolah menjadi pertunjukan wayang itu sendiri. Maka tidak heran jika gunungan menjadi cerminan dunia yang penuh tantangan keindahan, dan harapan.
(Hanifah Okta)