RADAR MALIOBORO – Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta kembali memperkuat posisinya sebagai pusat seni terkemuka di tanah air dengan menggelar serangkaian pameran internasional yang menarik perhatian penggemar seni dari berbagai belahan dunia. Dua pameran utama yang menjadi sorotan adalah "Jalan Menuju Media Kreatif" (JMMK) ke-17 dan Yogyakarta International Creative Arts Festival (YICAF).
Baca Juga: Penyebab Gugatan Cerai Artis Tasya Farasya Ke Suami
Pameran tahunan JMMK #17, yang diselenggarakan oleh Fakultas Seni Media Rekam (FSMR) ISI Yogyakarta, berlangsung dari 27 Oktober hingga 3 November 2025. Mengusung tema "ResonARTion: Resonance of Art & Collaboration," pameran ini menampilkan 111 karya seni media rekam, mencakup fotografi, film, televisi, animasi, dan game. Karya-karya tersebut dipresentasikan oleh mahasiswa, dosen, serta seniman dari sepuluh negara.
Baca Juga: Artis Eza Gionino Siapkan Rumah Baru untuk Istri dan Anak di Tengah Proses Perceraian
Lucia Ratnaningdyah Setyowati, selaku kurator internal FSMR, menjelaskan bahwa tema "ResonARTion" menyoroti interaksi antara seni dan konteks sosial. Dura Jovicic, kurator asal Australia, juga menekankan keberagaman perspektif dari para kreator yang berpartisipasi dalam pameran ini. Rektor ISI Yogyakarta, Dr. Irwandi, berharap JMMK dapat terus menjadi simbol kekuatan akademik serta memperluas jaringan internasional kampus. Ia juga menginginkan agar pameran ini dapat lebih menginternasionalkan ISI Yogyakarta.
Baca Juga: Bukan Sekadar Hiasan Semata! Membongkar Makna Filosofis di Balik Gunungan Wayang Kulit
Selain JMMK, ISI Yogyakarta juga menjadi tuan rumah Yogyakarta International Creative Arts Festival (YICAF). Pada tahun 2025, YICAF mengangkat tema "Art Platform as International Art Connectivity," yang berlangsung dari 21 Juni hingga 31 Agustus 2025 di Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISI Yogyakarta.
Baca Juga: Badai Melissa Ancam Jamaika: Bencana Terganas 2025 di Ambang Pintu
Pameran ini menampilkan lebih dari 500 karya seni dari 13 negara, dengan salah satu daya tarik utamanya adalah instalasi patung berukuran besar yang dipajang di area terbuka kampus. Muhammad Sholahuddin, Dekan FSRD ISI Yogyakarta, menyatakan bahwa patung-patung tersebut memberikan pengalaman visual yang berbeda, terutama saat malam hari.
Baca Juga: Museum Affandi: Menyusuri Jejak Sang Mestro Seni Seni di Tepian Kali Gajah Wong
Dengan penyelenggaraan pameran internasional ini, ISI Yogyakarta terus membuktikan diri sebagai lembaga pendidikan seni yang dinamis dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
(Laeli Musfiroh)