Dicetuskan pertama kali oleh penyanyi sekaligus kreator konten TikTok, Bunga Reyza, jebolan Indonesian Idol.
Kata Galgah kini resmi masuk Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring sebagai kosakata baru. Bunga Reyza sendiri terkenal asbun alias “asal bunyi” dalam menciptakan kata-kata unik seperti tangminglay, mingse, dongblang, hingga galgah.
Meski spontan, ide-ide ini biasanya lahir dari pemikiran kreatifnya sendiri untuk mengisi kekosongan kata maupun kata yang dirasa kurang pas dalam bahasa Indonesia.
Asal Kata Galgah yang Viral
Bunga Reyza aktif membuat konten di TikTok dengan gaya santai dan akrab dengan Gen Z, serta kerap menciptakan istilah unik.
Salah satu momen viral adalah ketika ia merasa bahasa Indonesia belum punya lawan kata yang tepat untuk “haus”. Ia kemudian berceletuk dengan nada asbun.
“Kan lawan kata lapar kenyang, sedangkan haus belum ada. Nah kan bingung ya.” ujarnya melalui unggahan di akun TikTok pribadinya.
Ia berceletuk, ketika seseorang ditawari makan, alasan yang umum diucapkan adalah sudah kenyang.
Namun, ketika ditawari minum, alasan apa yang bisa diberikan jika tidak haus? Sebab, belum ada lawan kata untuk haus.
“Makanya kita bikin aja, mau minum gak? gak dulu udah galgah.” sambungnya.
Dari situlah lahir kata “galgah” sebuah istilah yang spontan tapi memiliki arti sebagai sensasi lega atau segar di tenggorokan setelah minum, lawan kata dari haus.
Kata Galgah Resmi Masuk KBBI
Video unggahannya kemudian viral di TikTok. Setelah viral, kata “galgah” mendapat pengakuan formal dan resmi tercatat dalam KBBI edisi daring.
Menurut KBBI, “galgah” berarti: (sudah) lega atau segar kerongkongan karena minum; tidak dahaga.
Secara fungsional, kata galgah termasuk kelas kata adjektiva (kata sifat) yang menggambarkan kondisi seseorang yang sudah tidak merasa haus karena minum, dan tenggorokannya terasa segar.
Bunga Reyza sendiri mengaku senang dan bangga bahwa ide spontan yang muncul dari kepikiran saja kini mendapatkan pengakuan formal.
Masuknya “galgah” ke KBBI juga disambut antusias oleh warganet. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa Indonesia adalah sistem yang hidup, selalu terbuka terhadap perubahan, kreasi, dan kebutuhan penuturnya.
Penulis: Ayu Andayani Saputri
Editor : Bahana.