RADAR MALIOBORO – Indonesia memasuki periode rawan bencana hidrometeorologi. Badam Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan nasional terkait ancaman ganda berupa La Niña lemah dan peningkatan potensi siklon tropis yang bisa menyerupai Badai Seroja, bencana yang pernah menewaskan lebih dari 180 orang di NTT pada 2021.
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menjelaskan bahwa meski La Niña kali ini tergolong lemah, suhu muka laut di wilayah Indonesia yang semakin hangat justru memicu pembentukan awan hujan lebih intens. “Bukan La Niña yang meningkatkan hujan, tapi laut kita yang makin panas,” ujarnya dalam konferensi pers, Sabtu (1/10/2025).
Wilayah Selatan Indonesia, meliputi Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan Maluku bagian Selatan, diprediksi akan mengalami cuaca ekstrem berupa hujan deras, angin kencang, dan potensi banjir bandang. Puncak risiko diperkirakan terjadi antara November 2025 hingga Februari 2026.
BMKG meminta pemerintah daerah segera meningkatkan status siaga darurat dan memperkuat koordinasi lintas sektor. Kesiapan logistik, system peringatan dini, dan edukasi masyarakat menjadi kunci menghadapi potensi bencana. “Siklon bisa muncul kapan saja, bahkan di luar musim hujan,” tegas Dwikorita.
Ancaman tak hanya datang dari daratan. Gelombang laut setinggi 4 meter diprediksi melanda perairan selatan Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Banten. Pola angin berkecepatan hingga 25 knot menjadi pemicu utama. BMKG mengimbau nelayan dan operator kapal untuk menunda aktivitas jika kondisi memburuk.
Bibit siklot tropis 98W juga terdeteksi di Laut Filipina utara Papua, dengan kecepatan angin 25 knot dan tekanan 1.006 hPa. Sistem ini bergerak ke arah barat laut dan berpotensi memicu cuaca ekstrem di Papua Barat dan Sulawei. Pola serupa juga muncul di Laut Andaman, Laut Cina Selatan, dan Samudra Hindia barat Banten.
BMKG menegaskan bahwa peringatan kali ini bukan sekadar rutinitas, melainkan fase siaga nasional. Masyarakat diminta aktif memantau informasi resmi melalui aplikasi infoBMKG dan kanal komunikasi pemerintah. “Ancaman cuaca ekstrem sudah di depan mata. Kesiapsiagaan adalah satu-satunya kunci keselamatan kita,” tutup Dwikorita.
Dengan kondisi atmosfer yang tak menentu, Indonesia kembali diuji. Bukan hanya soal cuaca, tapi soal seberapa siap kita melindungi satu sama lain.
(Hanifah Okta)
Editor : Iwa Ikhwanudin