Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Kirana Viramantra di Monjali: Doa untuk Pahlawan Menggema Lewat Cahaya dan Seni Digital

Iwa Ikhwanudin • Rabu, 12 November 2025 | 21:32 WIB
Perayaan seni multimedia bertajuk Kirana Viramantra di area fasad Monumen Yogya Kembali (Monjali), Senin (10/11).
Perayaan seni multimedia bertajuk Kirana Viramantra di area fasad Monumen Yogya Kembali (Monjali), Senin (10/11).

YOGYAKARTA - Dalam rangka memperingati Hari Pahlawan 2025, Kementerian Kebudayaan melalui Direktorat Pengembangan Budaya Digital menghadirkan perayaan seni multimedia bertajuk Kirana Viramantra di area fasad Monumen Yogya Kembali (Monjali), Senin (10/11).

Acara ini memadukan pertunjukan teater, musik, tari, dan video mapping, menghadirkan kolaborasi antara Mantradisi dan Sanggar Seni Sekar Kinanti dengan pementasan utama Goro-Goro Diponegoro.

Nama Kirana Viramantra berasal dari bahasa Sanskerta — Kirana berarti cahaya, Viramantra berarti pahlawan dan doa. Gabungan keduanya menggambarkan semangat “melangitkan doa untuk pahlawan lewat cahaya”, menjadikan Hari Pahlawan bukan sekadar peringatan, tetapi juga pengalaman budaya yang menyentuh dan inspiratif.

Direktur Pengembangan Budaya Digital Andi Syamsu Rijal mengatakan, “Kirana Viramantra bukan sekadar tontonan, tetapi wujud penghormatan kepada pahlawan melalui cahaya. Monumen Jogja Kembali menjadi ruang refleksi untuk memahami hubungan manusia dengan sejarahnya.”

Ia menegaskan, kebudayaan harus terus hidup dan relevan di era digital. “Tugas kita bukan membekukan masa lalu, tapi menghidupkannya agar bisa menyapa generasi baru dengan cara yang bermakna,” ujarnya.

Pertunjukan Goro-Goro Diponegoro sendiri merupakan naskah lama yang dimodifikasi menjadi drama musikal berbasis Macapat, menafsir ulang semangat perjuangan Pangeran Diponegoro melalui perpaduan seni tradisi dan teknologi digital.

Kepala Museum Monjali Yudi Pranowo menambahkan, kegiatan ini memperlihatkan sinergi antara museum, seniman, dan komunitas kreatif. “Video mapping di Monjali menjadi cara baru menyampaikan pesan kepahlawanan yang lebih menarik bagi generasi muda,” jelasnya.

Sementara itu, perwakilan seniman Fayafla mengungkapkan bahwa acara ini memberi ruang ekspresi bagi pelaku seni. “Kami bisa merespon situs sejarah melalui karya instalasi cahaya. Semoga dukungan seperti ini terus berlanjut,” katanya.

Selain pertunjukan utama, Kirana Viramantra juga menampilkan Light Art Installation, Video Mapping Show, dan karya dari sejumlah seniman serta komunitas seperti Paguyuban Geger Boyo, Roby Setiawan, dan Fayafla. Sebelumnya, Lepaskendali Labs juga mengadakan lokakarya video mapping pada 3–5 November 2025 yang diikuti seniman, mahasiswa, dan pelaku kreatif.

Salah satu penonton, Anggie, mengaku terkesan. “Semua dikemas begitu apik dan tidak membosankan. Ini hiburan yang penuh nilai seni. Semoga bisa digelar setiap tahun,” ujarnya.

Melalui Kirana Viramantra, Kementerian Kebudayaan berupaya menghadirkan kembali semangat kepahlawanan lewat bahasa seni dan teknologi, membumikan nilai-nilai perjuangan dengan cara yang lebih hidup, hangat, dan relevan bagi masyarakat masa kini. (*/iwa)

 

Editor : Iwa Ikhwanudin
#Mantradisi #Sanggar Seni Sekar Kinanti #Kementerian Kebudayaan #Monumen Yogya Kembali #Kirana Viramantra #monjali