Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Ketegangan Tiongkok-Jepang Picu Anjloknya Saham Pariwisata dan Ritel

Iwa Ikhwanudin • Rabu, 19 November 2025 | 17:22 WIB
Rombongan turis Tiongkok berjalan-jalan di distrik perbelanjaan Ginza di Tokyo.  (Sumber: The Guardian)
Rombongan turis Tiongkok berjalan-jalan di distrik perbelanjaan Ginza di Tokyo. (Sumber: The Guardian)

RADAR MALIOBORO – Saham perusahaan pariwisata dan ritel Jepang merosot tajam pada perdagangan Senin setelah pemerintah Tiongkok mengeluarkan peringatan perjalanan bagi warganya untuk tidak berkunjung ke Jepang. Langkah Beijing ini muncul di tengah memanasnya hubungan kedua negara akibat komentar Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengenai kemungkinan intervensi militer jika Taiwan di serang.

Komentar Takaichi, yang dikenal sebagai politisi konservatif dengan sikap keras terhadap Tiongkok, memicu respons marah dari Beijing. Pemerintah Tiongkok kemudian menyerukan warganya untuk memboikot Jepang sebagai tujuan wisata, bahkan mengimbau mahasiswa agar mempertimbangkan kembali rencana belajar di Universitas Jepang. Dampaknya langsung terasa di pasar saham. Shiseido anjlok 9 persen, Takashimaya turun lebih dari 5 persen, dan Fast Retailing, pemilik merek Uniqlo, merosot lebih dari 4 persen.

China merupakan sumber wisatawan terbesar bagi Jepang, dengan turis asal negeri itu dikenal sebagai konsumen utama produk kosmetik, pakaian, dan elektronik. Larangan perjalanan jelas menekan sektor pariwisata dan ritel yang selama ini bergantung pada belanja wisatawan Tiongkok.

Di tengah meningkatkan ketegangan, pemerintah Jepang berupaya meredakan situasi. Masaaki Kanai, Direktur Jenderal Biro Asia dan Oseania Kementerian Luar Negeri Jepang, dijadwalkan bertemu dengan pejabat senior Tiongkok Liu Jinsong di Beijing pada Selasa. Pertemuan ini diharapkan dapat meyakinkan bahwa komentar Takaichi tidak mencerminkan perubahan kebijakan resmi Jepang terhadap Taiwan, sekaligus mendesak Tiongkok menahan diri dari langkah yang bisa memperburuk hubungan bilateral.

Ketegangan terbaru ini menambah Panjang daftar perselisihan antara Tokyo dan Beijing mulai dari klaim atas Kepulauan Senkaku/Diaoyu hingga isu militer di Asia-Pasifik. Meski kedua negara merupakan mitra dagang utama, ketidakpercayaan historis dan rivalitas geopolitik terus menguji hubungan mereka.

Situasi ini menunjukkan bagaimana politik luar negeri dapat berdampak langsung pada ekonomi domestik. Bagi Jepang, komentar politik yang memicu ketegangan diplomatik kini berimbas pada sektor pariwisata dan ritel, memperlihatkan rapuhnya hubungan ekonomi yang selama ini menjadi penopang kerja sama kedua negara.

(Hanifah Okta)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#china #jepang #versus