RADAR MALIOBORO – Gunung Semeru kembali mengalami erupsi hebat pada Rabu (19/11/2025) sore. Letusan disertai luncuran awan panas guguran sejauh lebih dari lima kilometer dari puncak, serta kolom abu pekat setinggi dua ribu meter yang membumbung ke arah barat laut hingga utara. Peristiwa ini menimbulkan warga dan pendaki yang sedang berada di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.
Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Arief Prasetyo, mengatakan sebanyak 178 orang masih berada di kawasan Ranu Kumbolo saat erupsi terjadi. “Kami sudah berkoordinasi dengan tim lapangan untuk memastikan seluruh pendaki dalam kondisi aman. Arah awan panas tidak menuju ke utara, sehingga Ranu Kumbolo relatif aman. Namun evakuasi tetap kami siapkan,” ujarnya.
Sementara itu, Badan penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur melaporkan sebanyak 346 warga dari Kecamatan Pronojiwo dan Candipuro harus mengungsi ke delapan titik aman, termasuk balai desa, sekolah, dan masjid. Kepala BPBD Jawa Timur, Gatot Soebroto, menegaskan evakuasi dilakukan cepat untuk menghindari jatuhnya korban jiwa. “Kami prioritaskan keselamatan warga. Semua jalur evakuasi sudah dibuka, dan logistik darurat mulai disalurkan,” katanya.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyebut intensitas kesempatan meningkat siginifikan sehingga status Gunung Semeru resmi dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga). “Zona bahaya diperluas hingga delapan kilometer dari puncak, terutama di aliran Besuk Kobokan. Kami minta masyarakat tidak beraktivitas di radius tersebut,” jelas Kepala PVMBG, Hendra Gunawan.
Video amatir yang beredar menunjukkan awan panas atau wedus gembel bergulung cepat menutupi lereng gunung. Warga berlarian menyelamatkan diri, sementara sirine peringatan bahaya dibunyikan di Lumajang. Seismograf Pos Pengamatan Gunung Api Semeru mencatat amplitudo maksimum 40 mm dengan durasi lebih dari 16 menit.
Sebagai gambaran, data resmi menunjukkan status Gunung Semeru kini berada di Level III (Siaga). Radius bahaya ditetapkan sejauh delapan kilometer dari puncak, terutama di aliran Besuk Kobokan. Sebanyak 178 pendaki masih terjebak di Ranu Kumbolo, sementara 346 warga dari Pronojiwo dan Candipuro telah mengungsi. Kolom abu terpantau membumbung setinggi 2.000 meter ke arah barat laut-utara, dengan awan panas guguran meluncur sejauh 5,5 hingga 13 kilometer dari puncak.
Pemerintah mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi banjir lahar hujan, mengingat intensitas curah hujan di kawasan Lumajang cukup tinggi.
“Kami mohon masyarakat tetap tenang, ikuti arah petugas, dan jangan percaya informasi yang tidak jelas sumbernya, tambah Gatot.
(Hanifah Okta)
Editor : Iwa Ikhwanudin