Penemuan ini disambut dengan haru oleh para peneliti dan pegiat konservasi, terutama Septian Andriki yang terlibat langsung dalam ekspedisi melewati hutan lebat dengan jalur terjal.
Bersama ahli botani dari University of Oxford, Dr. Chris Thorogood, dan tim peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), mereka berhasil mendokumentasikan kehadiran bunga raksasa yang berdiameter 30-50 cm ini.
Rafflesia hasseltii dikenal dengan warna merah darah dan bintik putih bulat yang tersebar merata pada kelopak bunganya serta masa mekar yang sangat singkat, hanya sekitar 5-7 hari sebelum layu.
Lokasi penemuan berada di hutan hujan yang kondisi ekologinya masih terjaga, dan sebelumnya bunga ini juga pernah ditemukan di daerah lain seperti Muratara (Sumatera Selatan) dan Taman Nasional Kerinci Seblat (Riau), namun penemuan terbaru ini merupakan validasi ilmiah yang paling kuat.
Bunga ini memiliki keunikan sebagai tumbuhan parasit yang hanya bisa tumbuh pada inang Tetrastigma tertentu di hutan primer atau sekunder.
Tim ekspedisi harus menempuh perjalanan panjang dan penuh tantangan demi memprediksi waktu dan tempat mekarnya bunga tersebut.
Penemuan Rafflesia hasseltii ini bukan hanya menambah kekayaan katalog keanekaragaman hayati Indonesia, tapi juga menjadi pencapaian penting dalam upaya konservasi flora langka yang sulit dan jarang terdokumentasi ini.
Penemuan ini mengingatkan pentingnya pelestarian habitat asli dan dukungan aktif masyarakat demi menjaga keberlangsungan spesies endemik yang sangat langka ini di alam bebas.
Penulis: Ocha
Editor : Bahana.