RADAR MALIOBORO – Kebakaran besar yang melanda kompleks apartemen Wang Fuk Court di Distrik Tai Po, Hong Kong, Rabu (26/11/2025), menimbulkan duka mendalam. Hingga kamis pagi, tercatat 44 orang meninggal dunia dan lebih dari 279 penghuni masih hilang.
Di balik tragedi ini, muncul sudut pandang berbeda: scaffolding bambu yang selama puluhan tahun menjadi ikon konstruksi Hong Kong, kini justru disorot sebagai faktor utama penyebaran api. Material bambu yang mudah terbakar membuat api cepat menjalar ke beberapa blok apartemen, diperparah dengan penggunaan busa dalam pekerjaan perawatan eksterior.
Scaffolding bambu selama ini dikenal sebagai simbol tradisi dan efisiensi dalam pembangunan gedung tinggi di Hong Kong. Para pekerja konstruksi menilai bambu lebih fleksibel, ringan, dan murah dibandingkan material modern. Namun, kebakaran kali ini menimbulkan pertanyaan besar tentang standar keselamatan dan relevansi penggunaan material tradisional di tengah risiko modern. Publik menilai bahwa meski memiliki nilai budaya, keselamatan penghuni gedung harus menjadi prioritas utama.
Pemerintah Kong Kong telah menahan tiga orang terkait dugaan kelalaian dalam proyek renovasi. Sementara itu, keluarga korban masih mencari kerabat yang hilang, dan pusat bantuan darurat didirikan untuk menampung warga yang selamat. Banyak warga yang selamat menceritakan bagaimana mereka harus berlari menurut tangga darurat dengan asap pekat mengepung, sementara sebagaian lainnya terjebak di lantai atas menunggu evakuasi.
Tragedi ini menjadi pengingat bahwa ikon budaya sekalipun harus beradaptasi dengan tuntutan keselamatan modern. Kebakaran Wang Fuk Court bukan hanya soal kehilangan nyawam tetapi juga momentum bagi Hong Kong untuk mengevaluasi praktik konstruksi yang selama ini dianggap khas dan efisien.
Kini, perhatian publik tertuju pada langkah pemerintah kota dalam memperketat regulasi konstruksi, khususnya penggunaan scaffolding bambu di gedung tinggi. Banyak pihak mendesak agar tradisi tetap dihargai, tetapi tidak boleh mengorbankan keselamatan ribuan penghuni apartemen di kota padat seperti Hong Kong.
(Hanifah Okta)
Editor : Iwa Ikhwanudin