Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Kebakaran Wang Fuk Court, Tradisi Perancah Bambu Jadi Sorotan di Tengah Tragedi Hong Kong

Iwa Ikhwanudin • Jumat, 28 November 2025 | 19:30 WIB
Kebakaran menyebar dengan cepat dan berlangsung lebih dari satu hari di beberapa blok (Sumber: BBC)
Kebakaran menyebar dengan cepat dan berlangsung lebih dari satu hari di beberapa blok (Sumber: BBC)

RADAR MALIOBORO – Kebakaran besar yang melanda kompleks perumahan bersubsidi di Wang Fuk Court di distrik Tai Po, Hong Kong, menewaskan 94 orang dan melukai puluhan lainnya. Hampir 300 penghuni masih hilang, menjadikannya tragedi paling mematikan di kota itu dalam lebih dari enam dekade.

Di balik duka, muncul perdebatan sengit mengenai perancah bambu, ikon konstruksi tradisional Hong Kong yang selama puluhan tahun dianggap sebagai simbol efisiensi dan budaya lokal. Para ahli menilai struktur bambu yang menghubungkan blok apartemen justru memperburuk kebakaran, mempercepat penyebaran api, dan menyulitkan evakuasi.

Perancah bambu selama ini menjadi ciri khas lanskap kota Hong Kong, digunakan dalam pembangunan gedung tinggi maupun renovasi. Namun, tragedi Wang Fuk Court menimbulkan pertanyaan besar: apakah tradisi ini masih relevan di tengah tuntutan keselamatan modern? Awal tahun ini, pemerintah sebenarnya telah mengumumkan rencana mengganti bambu dengan baja yang lebih tahan api, tetapi proyek renovasi di Wang Fuk Court tetap menggunakan bambu.

Warga menilai Keputusan tersebut sebagai bentuk kurangnya transportasi. Banyak penghuni sebelumnya sudah menyuarakan kekhawatiran tentang biaya renovasi yang tinggi dan risiko keselamatan, namun suara mereka diabaikan. Kini, tuduhan kelalaian dan korupsi mencuat, memperkuat anggapan bahwa tragedi ini bukan sekadar kecelakaan, melainkan bencana buatan manusia.

Kompleks Wang Fuk Court dibangun pada 1980-an, dihuni sekitar 4.600 orang, dengan hampir 40 persen berusia lanjut. Kondisi apartemen yang sempit dan padat membuat evakuasi semakin sulit. Petugas pemadan kebakaran menghadapi suhu ekstrem, risiko runtuhnya perancah, serta lorong-lorong penuh sesak.

Pemerintah Hong Kong telah menahan tiga orang terkait renovasi dengan tuduhan pembunuhan, serta memerintahkan inspeksi menyeluruh terhadap semua kompleks perumahan yang sedang menjalani perbaikan besar. Fokus utama adalah keamanan perancah dan bahan bangunan, agar tragedi serupa tidak kembali terjadi.

Tragedi ini menjadi pengingat bahwa identitas budaya sekalipun harus beradaptasi dengan tuntutan keselamatan modern. Perancah bambu, yang selama ini dianggap sebagai simbol kecepatan dan tradisi, kini dipandang sebagai simbol rapuhnya sistem keselamatan publik di Hong Kong.

(Hanifah Okta)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#hongkong #kebakaran #Wang Fuk Court