Dinamai Cold Moon dari tradisi suku asli Amerika yang mengaitkannya dengan musim dingin di belahan Bumi Utara, fenomena ini menjadi supermoon ketiga dari empat rangkaian di 2025 setelah Beaver Moon November, dan Bulan akan berada di rasi Taurus dekat bintang Pleiades, Aldebaran, serta rasi Orion dan planet Jupiter.
Pakar astronomi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, menjelaskan bahwa Cold Moon (Bulan dingin) adalah istilah untuk purnama di akhir tahun ketika cuaca di belahan Bumi utara sedang dingin.
Puncak iluminasi purnama terjadi pada 5 Desember pukul 06.14 WIB (atau 23.14 UTC 4 Desember), sementara perigee tepat pada 4 Desember pukul 18.07 WIB, dengan bulan terbit di timur sekitar pukul 21.48 WIB malam 4 Desember sebagai waktu ideal pengamatan hingga dini hari.
Fenomena ini dapat disaksikan dengan mata telanjang dari lokasi terbuka minim polusi cahaya, terutama saat Bulan dekat horizon untuk efek optik ukuran lebih besar, dan formasi segitiga Pleiades-Aldebaran-Bulan akan menambah keindahan langit malam.
Tarikan gravitasi Bulan yang lebih kuat berpotensi meningkatkan pasang surut laut dan banjir rob di wilayah pantai Indonesia, meskipun tidak se ekstrem gerhana bulan, sehingga BMKG menyarankan kewaspadaan di pesisir.
Untuk pengamatan optimal, pilih cuaca cerah dengan memantau prakiraan BMKG, gunakan tripod kamera untuk fotografi, dan hindari area bercahaya buatan agar kecerahan maksimal terlihat jelas.
Penulis: Ocha
Editor : Bahana.