RADAR MALIOBORO – Kampung Inggris, sebuah desa di Kabupaten Kediri, Jawa Timur, kini dikenal sebagai pusat pembelajaran bahasa Inggris yang menarik ribuan pelajar dari seluruh Indonesia dan mancanegara. Namun, bagaimana sejarah perjalanan tempat ini?
Kampung Inggris mulai dikenal sejak tahun 1977, ketika Muhammad Kalend Osen, seorang santri yang pernah belajar di Pondok Modern Gontor, mendirikan Basic English Course (BEC). Kalend, yang berasal dari Kalimantan Timur, harus menghentikan pendidikannya karena masalah biaya. Ia kemudian belajar kepada KH Ahmad Yazid, seorang kyai di Pare yang menguasai berbagai bahasa asing.
Suatu ketika, dua mahasiswa IAIN Sunan Ampel Surabaya berkunjung untuk belajar bahasa Inggris kepada Kyai Yazid. Ketika Kyai tidak ada, Kalend diminta membantu. Dengan kemampuan yang dimilikinya, Kalend berhasil membantu kedua mahasiswa tersebut lulus ujian, dan dari sinilah namanya mulai dikenal di kalangan masyarakat.
Kalend awalnya mengajar di Masjid Darul Falah. Jumlah murid yang terus bertambah memicu pertumbuhan BEC. Metode pengajaran yang diterapkan menekankan praktik komunikasi aktif, tidak hanya grammar, melainkan juga keterampilan berbicara dan mendengarkan dalam bahasa Inggris. Seiring waktu, para alumni BEC terinspirasi untuk membuka lembaga kursus serupa, yang kemudian membentuk komunitas yang kita kenal sekarang sebagai Kampung Inggris.
Kampung Inggris mendapatkan julukan ini karena banyaknya lembaga kursus bahasa Inggris yang tersebar di Desa Tulungrejo dan Pelem. Rata-rata rumah warga dijadikan kos bagi para pelajar, menciptakan suasana belajar yang kental. Bahkan, dalam keseharian, banyak penduduk yang menggunakan bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari.
Dari tahun 2011, terdapat sekitar 114 lembaga kursus di Kampung Inggris, dan jumlah ini terus meningkat setiap tahun. Selain pelajar yang datang dari berbagai daerah di Indonesia, banyak juga yang berasal dari mancanegara, termasuk Malaysia dan Thailand. Saat ini, Kampung Inggris tidak hanya menyediakan kursus bahasa Inggris, tetapi juga bahasa Arab, Jepang, Mandarin, dan Perancis, sehingga banyak yang menyebutnya "Kampung Bahasa."
Kehadiran Kampung Inggris memberikan dampak signifikan bagi perekonomian lokal, serta mengubah pola pikir dan gaya hidup masyarakat. Warga setempat semakin terbiasa menggunakan bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari. Kampung Inggris Pare telah menjadi fenomena yang menarik perhatian banyak orang.
(Laeli Musfiroh)
Editor : Iwa Ikhwanudin