RADAR MALIOBORO – Suriname, sebuah negara di Amerika Selatan, memiliki sejarah menarik terkait komunitas Jawa. Lebih dari satu abad yang lalu, ribuan warga Jawa dibawa ke tanah ini sebagai pekerja kontrak, dan kini keturunan mereka menjadi bagian integral dari masyarakat Suriname. Bagaimana kisah perjalanan mereka hingga saat ini?
Pada abad ke-19, Suriname, yang dikenal sebagai Guyana Belanda, mengalami kekurangan tenaga kerja setelah penghapusan perbudakan pada tahun 1863. Untuk menutupi kekurangan ini, pemerintah Belanda mencari alternatif tenaga kerja dari luar, terutama dari Jawa, yang saat itu merupakan bagian dari Hindia Belanda.
Gelombang migrasi pertama terjadi pada 9 Agustus 1890, saat 94 orang Jawa tiba di Suriname dengan kapal SS Koningin Emma. Mereka direkrut oleh perusahaan "De Nederlandsche Handel Maatschappij" untuk bekerja di perkebunan tebu dan pabrik gula. Antara tahun 1890 dan 1939, sekitar 32.956 orang Jawa dikirim ke Suriname, terutama dari Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Setibanya di Suriname, kehidupan sebagai kuli kontrak tidaklah mudah. Banyak dari mereka harus beradaptasi dengan lingkungan dan budaya baru sambil bekerja keras di perkebunan dengan kondisi yang seringkali sulit. Meski demikian, setelah kontrak mereka berakhir, banyak yang memilih untuk tetap tinggal dan membangun kehidupan baru di sana.
Selama waktu berlalu, masyarakat Jawa mulai beranjak ke sektor lain seperti pertambangan bauksit dan pertanian, dan tidak sedikit yang berkontribusi di bidang bisnis dan pemerintahan.
Walaupun telah tinggal di Suriname selama beberapa generasi, masyarakat Jawa tetap menjaga identitas dan tradisi mereka. Bahasa Jawa masih digunakan dalam kehidupan sehari-hari, meskipun terdapat beberapa perbedaan dialek. Kesenian dan ritual tradisional seperti wayang kulit, gamelan, dan tari-tarian masih dilestarikan hingga sekarang, bahkan dalam beberapa hal justru lebih tradisional dibandingkan di Indonesia.
Organisasi seperti Vereniging Herdengking Javaanse Immigratie (VHJI) berperan penting dalam menjaga budaya Jawa di Suriname dan menjalin komunikasi dengan Indonesia guna mendapatkan dukungan untuk pengembangan seni dan budaya.
Masyarakat Jawa di Suriname telah memberikan kontribusi signifikan dalam berbagai aspek kehidupan di negara itu. Mereka juga menjadi jembatan penting dalam mempererat hubungan bilateral antara Indonesia dan Suriname. Sejak tahun 1976, kedua negara menjalin hubungan diplomatik yang semakin erat, didasari kesamaan sejarah dan budaya.
Kisah masyarakat Jawa di Suriname adalah tentang ketahanan, adaptasi, dan keberhasilan dalam menjaga identitas di tengah-tengah perbedaan budaya. Keberadaan mereka pun menjadi cerminan perjalanan diaspora yang menarik untuk disimak.
(Laeli Musfiroh)
Editor : Iwa Ikhwanudin