RADAR MALIOBORO - Krisis sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipeucang, Serpong, Tangerang Selatan, telah mencapai titik kritis, memicu kekhawatiran serius akan dampak lingkungan dan kesehatan warga sekitar. Overload kapasitas TPA menyebabkan tumpukan sampah kian menggunung, bahkan nyaris menelan beberapa rumah penduduk.
Data menunjukkan, sekitar enam hingga tujuh rumah di sekitar TPA dilaporkan terdampak parah. Kondisi ini diperburuk oleh hujan deras yang menyebabkan genangan air bercampur air lindi (leachate), cairan beracun dari sampah, yang kemudian mengalir deras ke permukiman warga.
Dampak paling nyata dirasakan oleh warga seperti Agus (50) yang rumahnya hampir tertimbun sampah.
Lebih dari sekadar ancaman fisik, krisis ini telah merusak kualitas hidup warga secara fundamental.
Sumur milik warga tak lagi layak pakai karena tercemar air lindi, memaksa mereka mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli air isi ulang demi kebutuhan sehari-hari (mandi, mencuci, minum).
Aroma busuk dari tumpukan sampah yang kuat menyebabkan warga sering mengeluhkan sesak napas dan gangguan kesehatan lainnya.
Sekretaris RT 006 RW 004, Ahidin, membenarkan bahwa gunungan sampah bahkan sempat menutup aliran kali, memicu banjir di Kampung Curug dan Desa Kademangan.
Merespons kondisi darurat ini, warga telah menggelar aksi protes di depan kantor UPTD Cipeucang pada November 2025 lalu.
Mereka menyampaikan enam tuntutan utama yang mendesak pemerintah daerah untuk segera bertindak, yaitu:
1. Penutupan TPA Cipeucang secara permanen.
2. Normalisasi saluran air yang tersumbat timbunan sampah.
3. Penyiagaan alat berat untuk merapikan dan mengangkut sisa-sisa sampah.
4. Pembersihan lindi untuk menghentikan pencemaran.
5. Pemberian kompensasi yang layak bagi keluarga terdampak.
Sebagai tindak lanjut awal, dilaporkan bahwa aktivitas pengangkutan sampah menuju TPA Cipeucang telah dihentikan sementara pasca-unjuk rasa.
Penghentian ini diharapkan memberi ruang bagi evaluasi dan pencarian solusi jangka panjang terhadap krisis pengelolaan sampah di Tangerang Selatan.
(Alena Mutiara)
Editor : Iwa Ikhwanudin