YOGYAKARTA - Gunung Merapi kembali menunjukkan aktivitas vulkanik yang signifikan pada periode pengamatan pagi ini. Berdasarkan laporan resmi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), gunung setinggi 2.968 mdpl ini mengalami 11 kali guguran lava dengan durasi antara 76,63 hingga 151,84 detik. Aktivitas ini menandakan suplai magma masih berlangsung, sehingga masyarakat di sekitar lereng Merapi diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi awan panas guguran (APG) dan lahar.
Laporan aktivitas Gunung Merapi untuk periode 00:00 hingga 06:00 WIB menunjukkan kondisi meteorologi yang relatif stabil. Cuaca cerah hingga berawan dengan angin tenang bertiup ke arah timur. Suhu udara berkisar antara 16,8-20,2°C, kelembaban 88,9-90,7%, dan tekanan udara 871-914,4 mmHg. Secara visual, gunung terlihat jelas dengan asap kawah berwarna putih tebal yang naik setinggi 25 meter di atas puncak kawah.
Data kegempaan mencatat beberapa jenis getaran, di antaranya:
- Guguran: 11 kali, dengan amplitudo 2-19 mm dan durasi 76,63-151,84 detik.
- Low Frekuensi: 2 kali, amplitudo 2-5 mm, durasi 7,05-18,02 detik.
- Hybrid/Fase Banyak: 18 kali, amplitudo 2-23 mm, durasi 12,2-57,04 detik.
Selain itu, teramati 10 kali guguran lava ke arah barat daya, mengarah ke Kali Sat/Putih dan Kali Krasak, dengan jarak luncur maksimum mencapai 2.000 meter. Saat ini, Gunung Merapi berada pada tingkat aktivitas Level III (Siaga), yang berarti potensi bahaya masih tinggi.
PVMBG menekankan rekomendasi keselamatan bagi masyarakat di wilayah Sleman, Magelang, Boyolali, Klaten, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Tengah:
1. Potensi bahaya utama berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan-barat daya, meliputi Sungai Boyong (maksimal 5 km), Sungai Bedog, Krasak, Bebeng (maksimal 7 km). Pada sektor tenggara, Sungai Woro (maksimal 3 km) dan Sungai Gendol (maksimal 5 km). Lontaran material vulkanik bisa mencapai radius 3 km dari puncak jika terjadi letusan eksplosif.
2. Suplai magma yang terus berlangsung dapat memicu awan panas guguran di daerah potensi bahaya.
3. Hindari segala kegiatan di zona bahaya.
4. Waspadai bahaya lahar dan APG, terutama saat hujan deras di sekitar gunung.
5. Antisipasi gangguan abu vulkanik dari erupsi.
6. Jika ada perubahan aktivitas signifikan, tingkat siaga akan ditinjau ulang.
Laporan ini disusun oleh Alzwar Nurmanaji, A.Md, dan Yulianto dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), dengan sumber data dari KESDM, Badan Geologi, PVMBG. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi situs resmi MAGMA Indonesia di https://magma.esdm.go.id/v1/gunung-api/laporan atau ikuti media sosial PVMBG di https://linktr.ee/PVMBG. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin