Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Terobosan Teknologi SAR: Pakar UGM Dorong Penggunaan Drone dan AI untuk Percepat Pencarian Korban Bencana

Iwa Ikhwanudin • Jumat, 12 Desember 2025 | 17:09 WIB
Ilustrasi bencana banjir di Sumatera.
Ilustrasi bencana banjir di Sumatera.

YOGYAKARTA – Lambatnya proses pencarian korban akibat bencana banjir bandang dan longsor di wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat menyoroti urgensi pemanfaatan teknologi modern dalam operasi penyelamatan. Data terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per hari Rabu (10/11/2025) mencatat jumlah korban mencapai 969 orang dan 252 korban masih hilang.

Kondisi ini mendorong pakar teknologi kecerdasan buatan (AI) dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr Andi Dharmawan SSi MCs untuk menyuarakan perlunya adopsi teknologi berbasis drone, computer vision, dan perangkat pintar guna mempercepat dan meningkatkan efektivitas operasi pencarian dan penyelamatan (SAR).

Andi menjelaskan bahwa penggunaan drone dalam pencarian korban bencana bukanlah hal baru di dunia internasional. Ia mencontohkan keberhasilan teknologi ini di beberapa negara maju:

Amerika Serikat: Saat Badai Harvey, video udara dari drone digunakan secara real-time untuk mempercepat proses evakuasi.

Australia: Sebuah drone berhasil menyelamatkan dua remaja yang terseret ombak dengan menjatuhkan pelampung secara otomatis.

Jepang dan Swiss: Negara-negara ini telah mengembangkan drone dengan kamera termal dan AI yang khusus dirancang untuk mendeteksi keberadaan manusia di antara puing-puing.

"Di Indonesia, drone memang sudah mulai dipakai, tapi belum terintegrasi dengan AI," ujar Andi pada Kamis (11/12/2025).

"Tantangannya saat ini tinggal integrasi, adopsi, dan hilirisasi," tambahnya.

Meski menjanjikan, Andi mengakui bahwa kondisi geografis Indonesia yang kompleks menjadi tantangan utama. Medan bencana yang sangat beragam—mulai dari banjir bandang, hutan lebat, hingga wilayah tanpa sinyal—dapat memengaruhi stabilitas drone dan akurasi deteksi AI.

"AI bisa mendeteksi manusia di gambar, tapi kondisi lapangan tidak selalu ideal. Air keruh, banyak puing, pencahayaan minim, atau korban tertutup sebagian. Modelnya harus kuat banget buat kondisi dunia nyata," jelasnya.

Selain itu, ia menekankan pentingnya sistem yang cepat dan rapi untuk mengintegrasikan informasi hasil deteksi drone dan AI langsung kepada tim SAR di lapangan agar dapat segera ditindaklanjuti.

Baca Juga: BMKG Deteksi Dua Bibit Siklon Tropis di Samudra Hindia, Waspada Hujan Lebat dan Gelombang Tinggi di Sejumlah Wilayah

Untuk implementasi yang efektif, Dr. Andi menyarankan agar pengembangan dimulai dari penerapan yang sederhana namun berdampak, yaitu penggunaan drone stabil dengan video real-time berkualitas tinggi.

"Ini sudah sangat membantu penyisiran tanpa harus menunggu teknologi canggih diterapkan sekaligus. Setelah itu, baru ditambah fitur AI ringan untuk menandai area yang dicurigai ada manusia," sarannya. "Bukan menggantikan manusia, tapi mempercepat proses ngecek video."

Andi menegaskan bahwa kunci keberhasilan terletak pada uji coba di lapangan. Ia menilai riset mengenai UAV (Unmanned Aerial Vehicle), computer vision, dan AI di UGM sudah sangat maju. Namun, riset ini masih terhenti di tingkat konsep dan memerlukan dukungan kuat untuk hilirisasi serta kolaborasi dengan instansi kebencanaan.

"Teknologi secanggih apapun kalau belum diujicoba di medan Indonesia yang cuacanya cepat berubah dan banyak hal tak terduga, masih perlu banyak penyesuaian," tegasnya.

Andi berharap inovasi pencarian korban ini tidak berhenti di tahap riset, melainkan mendapat dukungan lebih kuat agar bisa sampai tahap hilirisasi dan benar-benar digunakan dalam operasi SAR resmi. Ia juga berharap ada kegiatan uji coba rutin di lapangan agar teknologi terus berkembang.

"Tidak harus langsung besar, yang penting terus berkembang dan akhirnya bisa beneran membantu menyelamatkan nyawa," pungkasnya. (iwa)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#banjir bandang #teknologi #banjir sumbar #banjir sumut #korban #pakar UGM #penggunaan drone #banjir aceh #terobosan #Percepat #pencarian #sar