Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Sembilan Pelajaran Berharga Dr. Tirta untuk Anak Muda yang Terlena Motivasi Bisnis Instan

Iwa Ikhwanudin • Rabu, 17 Desember 2025 | 05:42 WIB
Channel YouTube Malaka Project
Channel YouTube Malaka Project

RADAR MALIOBORO - Di tengah gempuran konten motivasi yang mendorong anak muda untuk “jadi bos sejak muda,” muncul satu suara yang justru menantang narasi tersebut, yaitu Dr. Tirta. 

Baginya, mentalitas “baru lulus langsung jadi pengusaha” bukan hanya tidak realistis dan bisa menghancurkan mental dan finansial anak muda.

Pria lulusan S1 kedokteran UGM tersebut sekarang berprofesi utama sebagai dokter. Selain itu, ia juga punya bisnis cuci sepatu, dan juga aktif membuat konten edukasi di YouTube.

Lewat podcast yang rilis tanggal 10 oktober 2025 di channel Malaka berjudul “Baru Lulus Udah Pengen Buka Bisnis?”, Dr. Tirta atau disapa akrab cipeng, memaparkan secara lengkap alasan fresh graduate yang sebaiknya tidak terburu-buru membuka bisnis dan mengajak anak-anak muda untuk memahami realita kehidupan.

1. Pebisnis Kaya Raya itu “Beli Waktu”, Bukan Beli Barang

Menurut Dr. Tirta, anak muda sering salah memahami esensi orang kaya. Mereka mengira kekayaan itu soal barang-barang mewah. Padahal:

“Tujuan orang kaya adalah membeli waktu.”

Para pengusaha besar menghabiskan puluhan tahun membangun bisnis, mengorbankan waktu untuk diri sendiri, keluarga, dan kesehatan. Ketika mereka akhirnya punya uang, barulah mereka membeli dan mendapatkan freedom (kebebasan).

Itulah sebabnya privilege mempengaruhi kecepatan seseorang menjadi kaya. Fresh graduate tanpa privilege akan butuh waktu jauh lebih lama ketimbang mereka yang lahir dengan akses dan modal.

2. Faktor yang Tidak Pernah Diakui Para Motivator: Luck

Salah satu poin paling kritis dalam podcast ini adalah pernyataan bahwa bisnis tidak pernah murni soal kerja keras dan modal saja. Ada variabel yang sering disembunyikan:

“Saya masih percaya faktor terakhir: luck.”

Contoh paling sederhana adalah Kapal Api. Mereka sukses karena menjadi yang pertama di pasar. Jika baru muncul tahun 2024, mungkin ceritanya berbeda.

Dr. Tirta menegaskan bahwa banyak motivator menipu anak muda dengan jargon “modal dengkul,” baginya itu sekadar omong kosong. “Bisnis modal dengkul itu hoaks. Bisnis butuh modal, butuh risiko, dan kadang butuh keberuntungan,” imbuhnya.

3. Bahaya Berhutang untuk Bisnis yang Belum Terbukti

“Berhutanglah kalau bisnisnya sudah ada. Jangan gadaikan rumah orang tua demi sesuatu yang tidak pasti.”

Kesalahan paling fatal anak muda adalah meminjam uang untuk bisnis yang bahkan belum menghasilkan apa-apa. Mereka baru berjalan, tetapi sudah dikejar cicilan pokok dan bunga.

Buat fresh graduate, pesan Dr. Tirta jelas, yaitu berhenti berpikir bahwa pinjaman adalah tiket cepat menuju kesuksesan.

4. Fresh Graduate Tidak Punya Apa-Apa? Yang Dijual Itu Otakmu

Ketika anak muda bertanya, “Saya ingin bisnis tapi bingung bisnis apa,” Dr. Tirta menjawab:

“Bisnis dulu otakmu itu loh. Tingkatkan dulu literasinya.”

Ia menyarankan: untuk selalu belajar dari berbagai hal, bisa melalui buku, artikel, jurnal, short course, podcast, dan yang paling penting adalah kurangi nonton video tidak beredukasi di Tiktok.

Dr. Tirta menambahkan bahwa Investasi terbesar menurut mentor yang ia hormati itu ada dua: otak dan kesehatan. Tanpa keduanya, uang tidak akan bertahan lama.

5. Tidak Ada yang Benar-Benar “From Zero”

Dr. Tirta secara blak-blakan menyebut bahwa narasi “from zero to hero” adalah ilusi pemasaran.

“Saya tidak percaya from zero. Semua orang yang saya tahu pasti punya sesuatu sebagai titik awal.”

Ia memberi contoh bagaimana privilege memainkan peran besar di balik kesuksesan tokoh-tokoh publik. Namun, poinnya bukan untuk menyalahkan privilege, melainkan untuk memahami bahwa itulah kenyataan hidup. Setiap orang punya titik awal mereka masing-masing.

6. Jangan Hidup Menurut Standar Palsu dari Society

Tekanan sosial membuat anak muda merasa umur 25 harus punya 100 juta, dan umur 30 harus punya rumah. Padahal, semua itu adalah standar fiktif yang diciptakan masyarakat.

“Sukses itu subjektif. Dan tidak ada orang puas dari nominal.”

Dr. Tirta bahkan menekankan bahwa membeli barang bekas, ngontrak, atau hidup sederhana bukan sesuatu yang memalukan. Justru itulah keputusan finansial yang sehat.

7. Realistis Finansial

“Jangan nikah dulu kalau belum mampu. Kalau belum bisa menyelamatkan diri sendiri, jangan menyelamatkan orang lain.”

Menikah tanpa mempertimbangkan kondisi finansial justru akan membuat kemiskinan baru. Oleh karena itu, Dr. Tirta mendorong anak muda untuk realistis, bukan impulsif.

8. Habit Penting, Tapi Habit Bukan Jaminan Kaya

Motivator sering mengatakan bahwa bangun pagi adalah jalan menuju kekayaan. Dr. Tirta mengomentari ini dengan satir:

“Saya 30 tahun bangun pagi, tapi nggak jadi Sandiaga Uno.”

Menurutnya, bangun pagi itu baik, tapi tujuannya adalah membentuk mental dan disiplin seseorang, bukan jalan pintas menjadi kaya mendadak.

9. Sukses Tidak Perlu Terburu-Buru

“Liverpool Aja 30 Tahun Baru Juara, bisa jadi kalian 30 tahun lagi baru sukses.”

Pesan ini bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk meruntuhkan obsesi instan yang membebani banyak anak muda hari ini. Hidup bukan kompetisi, dan setiap orang punya waktu yang berbeda.

(Affrendi Kurniawan) 

Editor : Iwa Ikhwanudin
#konten #dokter tirta #motivasi #narasi