Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Pohon Tarra, Peristirahatan Terakhir Bayi dalam Tradisi Toraja

Iwa Ikhwanudin • Minggu, 21 Desember 2025 | 13:19 WIB
“Ilustrasi pohon Tarra, media pemakaman bayi dalam tradisi Passiliran masyarakat Toraja”
“Ilustrasi pohon Tarra, media pemakaman bayi dalam tradisi Passiliran masyarakat Toraja”

RADAR MALIOBORO —Di Tana Toraja, Sulawesi Selatan, kematian bukan hanya tentang kehilangan, tetapi juga tentang mengembalikan kehidupan kepada alam. Di tengah hutan yang teduh dan sunyi, berdiri pohon Tarra, pohon besar yang menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi bayi-bayi Toraja melalui sebuah tradisi sakral bernama Passiliran.

Passiliran adalah ritual pemakaman bayi yang meninggal sebelum tumbuh gigi. Bayi-bayi ini dianggap masih suci, belum sepenuhnya mengenal dunia, sehingga jasadnya tidak dikuburkan di tanah. Sebaliknya, mereka “dipulangkan” ke alam dengan ditempatkan di dalam batang pohon Tarra, seolah kembali ke asal kehidupan.

Salah satu lokasi Passiliran yang paling dikenal berada di kawasan Kambira. Di sana, pohon Tarra menjulang tinggi dengan batang besar yang dipenuhi lubang-lubang kecil tertutup ijuk. Dari kejauhan, lubang-lubang itu tampak seperti tambalan gelap di kulit kayu tua. Di balik setiap lubang, tersimpan kisah singkat kehidupan yang berakhir terlalu cepat.

Pohon Tarra bukan pohon sembarangan. Usianya ratusan tahun, diameternya besar, dan buahnya menyerupai sukun. Dalam kepercayaan Toraja, getah pohon ini melambangkan air susu ibu sebagai simbol kehidupan dan kasih sayang. Karena itu, pohon Tarra dipercaya mampu merawat jasad bayi sebagaimana rahim seorang ibu menjaga anaknya.

Proses pemakaman dilakukan dengan sederhana, tetapi penuh makna. Batang pohon dilubangi secukupnya, lalu jenazah bayi dimasukkan dalam posisi berdiri dan menghadap ke arah rumah keluarga. Tidak ada kain pembungkus, tidak ada peti. Lubang kemudian ditutup dengan ijuk dari pohon enau.

Letak lubang pada batang pohon juga memiliki makna tersendiri. Semakin tinggi posisinya, semakin tinggi pula strata sosial keluarga bayi tersebut. Meski demikian, semua bayi diperlakukan dengan prinsip yang sama untuk kembali ke alam dengan kesucian yang utuh.

Selama masa pemakaman hingga waktu tertentu, ibu bayi tidak diperkenankan melihat tempat peristirahatan anaknya. Larangan ini dipercaya sebagai bentuk perlindungan, agar sang ibu kelak dapat kembali melahirkan anak yang sehat.

Seiring berjalannya waktu, lubang-lubang pada pohon Tarra akan menutup dengan sendirinya. Pohon tetap hidup dan tumbuh, seolah menyatu dengan jasad bayi di dalamnya. Karena itu, pohon Tarra tidak boleh ditebang, agar perjalanan sang bayi menuju alam baka tidak terputus.

Kini, Passiliran semakin jarang dilakukan. Namun, pohon-pohon Tarra di Kambira tetap berdiri sebagai saksi kearifan lokal yang mengajarkan tentang hubungan manusia dengan alam, kehidupan, dan kematian. Dalam diamnya hutan Toraja, pohon Tarra menyimpan kisah-kisah kecil tentang kehidupan yang singkat, tetapi bermakna.

(Alena Mutiara)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#sulawesi selatan #pohon #tanah toraja