Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Anak Perempuan Pertama: Terlihat Keras Kepala, Padahal Rapuh dan Butuh Sandaran

Iwa Ikhwanudin • Kamis, 1 Januari 2026 | 03:24 WIB
“Ilustrasi anak perempuan pertama yang terbiasa mandiri, namun tetap membutuhkan dukungan emosional.”
“Ilustrasi anak perempuan pertama yang terbiasa mandiri, namun tetap membutuhkan dukungan emosional.”

RADAR MALIOBORO— Anak perempuan pertama kerap dikenal sebagai sosok yang tegas, mandiri, dan keras kepala. Ia terlihat kuat dalam memegang prinsip dan jarang menunjukkan keraguan. Namun di balik sikap itu, ada sisi rapuh yang sering luput dari perhatian.

Sejak kecil, anak perempuan pertama tumbuh dengan banyak tuntutan. Ia diharapkan menjadi contoh, mampu mengalah, dan bisa diandalkan dalam berbagai situasi. Tanpa sadar, peran tersebut membentuknya menjadi pribadi yang terbiasa berdiri sendiri. Ketika ia mempertahankan pendapat atau menolak menyerah, sikap itu kerap dilabeli sebagai keras kepala.

Padahal, keteguhan tersebut lahir dari proses panjang. Anak pertama adalah sosok yang tumbuh di tengah proses belajar orang tua. Ia menjadi anak pertama yang diasuh, dididik, dan diarahkan ketika pengalaman orang tua belum sepenuhnya terbentuk. Di saat yang sama, ia juga memikul peran ganda: sebagai kakak bagi adik-adiknya, sebagai anak yang diharapkan kuat, serta sebagai individu yang dituntut berprestasi di lingkungan pendidikan dan sosial.

Tekanan itu membuat anak perempuan pertama belajar mandiri lebih cepat. Ia terbiasa menyelesaikan masalah sendiri dan jarang menunjukkan kelemahan. Namun, kemandirian tersebut bukan berarti ia tidak membutuhkan orang lain. Di balik sikap keras kepala yang tampak di luar, ia tetap memiliki perasaan yang mudah lelah dan hati yang rapuh.

Sering kali, anak perempuan pertama tidak diberi ruang untuk mengeluh. Ia dianggap mampu menghadapi segalanya, sehingga kebutuhan emosionalnya terabaikan. Keras kepala pun menjadi bentuk perlindungan diri, sebagaicara bertahan agar tidak runtuh di tengah tuntutan yang terus datang.

Berbagai sumber menyebutkan, anak pertama cenderung mengikuti arahan orang tua dan menjadi harapan utama keluarga. Tuntutan ini mendorong mereka tumbuh menjadi pribadi yang perfeksionis, bertanggung jawab, dan berani mempertahankan keyakinan. Sayangnya, sikap tersebut kerap disalahartikan sebagai keegoisan.

Pada akhirnya, anak perempuan pertama bukanlah sosok yang selalu kuat. Ia hanya terbiasa terlihat kuat. Di balik keteguhannya, ada kebutuhan sederhana yang sering terlewat: dipahami, ditemani, dan diberi sandaran.

(Alena Mutiara)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#perempuan #Pertama #anak