Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Tanpa Kemeriahan, Kota-Kota Favorit Liburan Ini Rayakan Tahun Baru dengan Khidmat

Iwa Ikhwanudin • Senin, 5 Januari 2026 | 10:26 WIB
Ilustrasi suasana Tahun Baru yang tetap sederhana sebagai bentuk penghormatan bagi Sumatra.”
Ilustrasi suasana Tahun Baru yang tetap sederhana sebagai bentuk penghormatan bagi Sumatra.”

RADAR MALIOBORO — Pergantian tahun identik dengan pesta meriah, kerumunan massa, dan langit yang dipenuhi kembang api. Namun, malam Tahun Baru kali ini menghadirkan suasana berbeda di sejumlah kota besar yang biasanya menjadi pusat perayaan dan tujuan liburan akhir tahun. Demi menunjukkan empati dan solidaritas terhadap warga terdampak bencana di Sumatra, berbagai daerah memilih merayakan pergantian tahun secara lebih sederhana dan khidmat.

Di Jakarta, Pemerintah Provinsi DKI meniadakan pesta kembang api yang selama ini menjadi ikon malam tahun baru. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengimbau instansi pemerintah dan masyarakat untuk tidak menyalakan petasan. Sebagai gantinya, atraksi drone ditampilkan di kawasan Bundaran HI dengan visual bertema solidaritas, termasuk tulisan “Jakarta for Sumatra”. Kebijakan ini disambut positif warga. Di tempat lain, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) menggelar doa seribu lilin dan penggalangan dana bagi korban bencana.

Suasana serupa juga terasa di Yogyakarta, kota wisata yang biasanya padat saat libur akhir tahun. Pemerintah daerah memastikan tidak ada perayaan skala besar maupun pesta kembang api. Meski kawasan Malioboro tetap ramai wisatawan, perayaan berlangsung lebih tertib dan tenang. Sejumlah titik memilih mengisi malam pergantian tahun dengan doa bersama sebagai bentuk empati nasional.

Di Solo, perayaan malam Tahun Baru dikemas dengan pendekatan reflektif. Pemerintah Kota Solo meniadakan kembang api dan menggantinya dengan pertunjukan rakyat serta doa bersama bertajuk Refleksi Akhir Tahun: Doa Bersama untuk Negeri. Kegiatan digelar di Jalan Slamet Riyadi hingga Taman Balekambang dan mendapat sambutan hangat dari masyarakat.

Sementara itu, Semarang menghadirkan acara “Harmoni Kebersamaan” di kawasan Simpang Lima. Agenda ini diisi doa lintas agama, konser musik sederhana, serta penggalangan donasi bagi korban bencana.

Di Bandung, kota yang biasanya semarak dengan pesta dan kembang api, langit malam pergantian tahun tampak lebih tenang. Meski tanpa dentuman kembang api, ribuan warga tetap memadati kawasan favorit seperti Alun-alun Bandung, Jalan Asia Afrika, Braga, dan Dago. Perayaan berlangsung sederhana, tetapi hangat dan penuh kebersamaan.

Pergantian tahun kali ini menjadi pengingat bahwa makna perayaan tidak selalu terletak pada kemeriahan. Dalam kesederhanaan dan empati, solidaritas justru terasa lebih kuat.

(Alena Mutiara)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#pergantian #malam #tahun baru #banjir #bencana