RADAR MALIOBORO - Akhir-akhir ini, aktivitas mendaki gunung kembali digemari generasi muda. Setiap weekend, jalur pendakian dipenuhi pendaki, dan sebagian besar momen perjalanan mereka terekam untuk kemudian dibagikan di media sosial.
Kegiatan outdoor ini kini menjadi pilihan utama generasi muda yang mencari keseimbangan di tengah hiruk-pikuknya kehidupan.
Berbeda dengan dulu yang menganggap mendaki gunung sebagai olahraga ekstrem penuh risiko, hiking kini menjelma menjadi gaya hidup ramah lingkungan yang dapat dinikmati berbagai kalangan. Aksesibilitas yang semakin terbuka membuat aktivitas ini tidak lagi eksklusif bagi para pendaki berpengalaman.
Tren hiking tidak hadir secara tiba-tiba. Fenomena ini lahir dari kombinasi erat antara gaya hidup modern dan budaya berolahraga yang semakin bergam. Kebiasaan jogging dan lari menjadi pintu masuknya.
Baca Juga: Leher Kaku saat Bangun Tidur? Intip begini cara mengatasinya
Para pelari yang terbiasa dengan trek aspal perkotaan kini beralih ke trail run dengan rute yang lebih menantang. Ketahanan fisik dari rutinitas lari inilah yang membekali mereka untuk menjelajah gunung. Hiking kemudian hadir sebagai perubahan natural dari kebiasaan tersebut.
Media sosial juga turut berperan penting dalam perubahan ini. foto-foto pemandangan indah dari puncak gunung, sunrise yang memukau, hingga momen-momen kebersamaan di alam terbuka menjadi konten yang viral.
Perubahan ini mencerminkan pergeseran makna hiking itu sendiri. Bagi sebagian besar, mencapai puncak gunung bukan lagi tujuan utama. Aktivitas ini justru menjadi semacam terapi alam sebuah cara untuk melepaskan diri dari ketergantungan gadget dan media sosial.
Baca Juga: Intip Kuliner Legendaris Khas Bantul: Mie Lethek
“Setiap langkah di jalur pendakian adalah upaya untuk reconnect dengan alam dan diri sendiri,” ungkap salah satu pecinta hiking yang enggan disebutkan namanya.
Tren ini menunjukkan bahwa generasi muda kini semakin sadar akan pentingnya menjaga kesehatan mental dan fisik melalui kegiatan yang dekat dengan alam. Yang terpenting, aktivitas ini mengingatkan kita bahwa kebahagiaan sejati tak selalu datang dari layar gadget, melainkan dari langkah kaki di tanah yang nyata dan udara segar pegunungan yang menyapa.
Apapun alasannya, konten atau hobi bukan hal yang perlu diperdebatkan, asalkan dilakukan dengan kepedulian terhadap kelestarian bumi.
(Tiya Ermiyati)