RADAR MALIOBORO - Belakangan ini, istilah flexing semakin sering muncul di media sosial. Banyak anak muda yang tanpa sadar sudah melakukan flexing, mulai dari memamerkan barang mahal, liburan mewah, hingga gaya hidup yang terlihat serba wah. Fenomena ini berkembang seiring kuatnya pengaruh media sosial dalam kehidupan sehari-hari.
Arti Flexing
Flexing bisa diartikan sebagai perilaku pamer, khususnya yang berkaitan dengan kekayaan, pencapaian, atau gaya hidup.
Tujuan flexing ini beragam, ada yang sekadar berbagi kebahagiaan, mencari pengakuan, hingga ingin terlihat lebih sukses di mata orang lain.
Contoh Flexing
Flexing cukup mudah ditemui. Misalnya, mengunggah foto kendaraan baru, HP baru terkhusus boba atau Appel Series, tas bermerek, jam mahal, atau momen liburan ke luar negeri dengan maksud menonjolkan kemewahan.
Baca Juga: Resep Bakwan Jagung Renyah dan Gurih, Mudah Dibuat di Rumah
Flexing juga bisa muncul dalam bentuk cerita atau unggahan yang menekankan status sosial dan pencapaian pribadi secara berlebihan.
Di satu sisi, flexing tidak selalu bermakna negatif. Bagi sebagian orang, membagikan pencapaian bisa menjadi bentuk motivasi dan rasa bangga atas usaha yang telah dilakukan. Namun, ketika dilakukan secara berlebihan, flexing justru bisa memunculkan dampak yang kurang baik, terutama bagi anak muda sekarang.
Dampak Flexing
Dampak flexing yang paling sering dirasakan adalah tekanan sosial. Anak muda bisa merasa tertinggal, minder, atau membandingkan diri dengan kehidupan orang lain yang terlihat lebih sempurna di media sosial. Hal ini berpotensi memicu stres, kecemasan, hingga menurunnya rasa percaya diri.
Flexing juga bisa mendorong gaya hidup konsumtif. Demi terlihat setara dengan orang lain, sebagian anak muda rela memaksakan diri membeli barang di luar kemampuan finansialnya. Jika dibiarkan, kebiasaan ini bisa berdampak pada kondisi keuangan di masa depan.
Baca Juga: Lima Rekomendasi Wisata di Jogja yang Wajib Kamu Kunjungi
Fenomena flexing ini menjadi pengingat bahwa apa yang terlihat di media sosial tidak selalu mencerminkan kenyataan sepenuhnya.
Penting bagi anak muda untuk lebih bijak dalam menggunakan media sosial dan fokus pada perkembangan diri sendiri, bukan sekadar pencitraan.
Flexing adalah pilihan personal. Menjadi diri sendiri dan menghargai proses hidup masing-masing adalah kunci agar anak muda tidak terjebak dalam tekanan sosial yang semu. (Aribah Zalfa Nur Aini)