Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Lagu Galau dan Psikologi Emosi: Bikin Makin Sedih atau Justru Melegakan?

Magang Radar Malioboro • Minggu, 11 Januari 2026 - 19:11 WIB
Ilustrasi seseorang mendengarkan musik sebagai sarana menyalurkan emosi dan menenangkan perasaan.”
Ilustrasi seseorang mendengarkan musik sebagai sarana menyalurkan emosi dan menenangkan perasaan.”

RADAR MALIOBORO — Saat hati sedang tidak baik-baik saja, banyak orang justru memilih memutar lagu galau. Lirik sendu dan melodi pelan seolah menjadi teman paling setia ketika sedang patah hati, lelah, atau merasa sendiri. Namun, muncul pertanyaan mendengarkan lagu sedih saat galau itu bikin perasaan makin terpuruk, atau justru membantu jadi lebih lega?

Fenomena ini ternyata bukan sekadar kebiasaan emosional. Secara psikologis, manusia memang cenderung memilih musik yang selaras dengan suasana hatinya. Musik berfungsi sebagai medium ekspresi emosi, bahkan ketika pendengarnya tidak sepenuhnya memahami lirik atau bahasa yang digunakan.
Sejumlah studi menunjukkan, musik sedih dapat membantu proses penerimaan emosi. Penelitian Annemieke (2016) menyebutkan bahwa lagu bernuansa melankolis lebih mudah diterima saat seseorang sedang sedih dibandingkan musik ceria. Mendengarkan lagu galau dinilai mampu memvalidasi perasaan, membuat pendengar merasa dipahami dan tidak sendirian.

Baca Juga: Kuliah Harus Pakai Kemeja? Ini Fakta Aturan Berpakaian Mahasiswa di Kampus

Alih-alih memperparah keadaan, musik sedih justru bisa menjadi saluran emosi yang aman. Lagu-lagu tersebut membantu seseorang menyalurkan kesedihan tanpa harus meluapkannya secara impulsif. Dengan menghadapi emosi secara perlahan, individu dapat lebih realistis dalam memahami masalah yang dihadapi.
Dari sisi biologis, musik emosional juga memengaruhi tubuh. Mendengarkan lagu melankolis diketahui dapat merangsang pelepasan hormon seperti prolaktin dan dopamin, yang berperan dalam menciptakan rasa tenang dan nyaman.

 Bahkan, beberapa penelitian menunjukkan musik yang mengharukan mampu mengalihkan perhatian dari rasa sakit fisik maupun emosional.
Meski demikian, dampak musik tetap bergantung pada kondisi masing-masing individu. Faktor empati, pengalaman pribadi, hingga kecenderungan merenung memengaruhi respons seseorang terhadap lagu galau. Jika kesedihan terasa makin mengganggu aktivitas sehari-hari, disarankan untuk menyeimbangkan musik dengan aktivitas lain seperti olahraga atau berbagi cerita dengan orang terdekat.

Baca Juga: Nadin Amizah Didiagnosis Disfonia Spasmodik, Apa Itu Gangguan Pita Suara yang Dialaminya?

Pada akhirnya, lagu galau bukan sekadar pemicu kesedihan. Bagi banyak orang, musik justru menjadi ruang aman untuk berdamai dengan emosi dan perlahan bangkit kembali.

(Alena Mutiara)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#emosi #psikologi #galau #lagu