Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Tren Self-Reward Berlebihan di Kalangan Anak Muda Antara Apresiasi Diri dan Gaya Hidup Konsumtif

Magang Radar Malioboro • Selasa, 13 Januari 2026 | 15:41 WIB
Ilustrasi tren self-reward berlebihan di kalangan anak muda antara apresiasi diri dan gaya hidup konsumtif. (Dilansir dari Antara News)
Ilustrasi tren self-reward berlebihan di kalangan anak muda antara apresiasi diri dan gaya hidup konsumtif. (Dilansir dari Antara News)

RADAR MALIOBORO - Dalam beberapa tahun terakhir, istilah self-reward semakin sering terdengar, terutama di kalangan anak muda. Setelah merasa lelah belajar, bekerja, atau menghadapi tekanan sehari-hari, banyak yang memilih memberi hadiah untuk diri sendiri. Mulai dari membeli makanan favorit, barang impian, hingga liburan singkat.

Awalnya, self-reward dipandang sebagai bentuk apresiasi diri yang wajar. Namun, kini muncul pertanyaan: apakah self-reward masih sekadar penghargaan untuk diri sendiri, atau justru sudah berubah menjadi gaya hidup konsumtif?

Bagi sebagian anak muda, self-reward dianggap sebagai cara menjaga kesehatan mental.

Memberi hadiah pada diri sendiri setelah melewati hari yang berat memang bisa menimbulkan rasa senang dan meningkatkan motivasi. Tidak ada yang salah dengan hal tersebut, selama dilakukan secara wajar dan sesuai kebutuhan. Masalah mulai muncul ketika self-reward dijadikan alasan untuk berbelanja berlebihan tanpa pertimbangan.

Pengaruh media sosial juga ikut memperkuat tren ini. Banyak konten yang menampilkan gaya hidup serba self-reward seolah menjadi hal yang wajib.

Tanpa disadari, anak muda jadi merasa tertinggal jika tidak ikut membeli barang terbaru atau mengikuti tren tertentu. Self-reward yang awalnya bersifat personal pun berubah menjadi ajang pembuktian sosial.

Jika dilakukan terus-menerus, kebiasaan ini bisa berdampak pada kondisi keuangan. Pengeluaran yang tidak terkontrol berisiko menimbulkan masalah finansial di kemudian hari.

Rasa puas yang muncul dari self-reward berlebihan biasanya hanya bersifat sementara, sehingga mendorong keinginan untuk terus membeli hal baru.

Padahal, self-reward tidak selalu harus berbentuk barang atau uang. Mengambil waktu istirahat, menikmati hobi, atau sekadar tidur cukup juga bisa menjadi bentuk apresiasi diri yang lebih sehat.

Intinya, self-reward seharusnya membantu diri merasa lebih baik, bukan justru menambah beban.

Tren self-reward di kalangan anak muda memang tidak bisa dihindari. Namun, penting untuk tetap bijak dalam menerapkannya.

Dengan memahami batasan antara kebutuhan dan keinginan, self-reward bisa kembali pada tujuan awalnya, yaitu menghargai diri sendiri tanpa terjebak dalam gaya hidup konsumtif. (Aribah Zalfa Nur Aini)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#berlebihan #Kalangan #anak muda #self reward #TREND