RADAR MALIOBORO - Siapa tak kenal sosok penyanyi indi, satu ini.
Penyanyi kelahiran Bandung Nadin Amizah rupanya didiagnosis mengalami kondisi medis bernama Disfonia Spasmodik.
Kabar mengejutkan ia sampaikan melalui unggahan Instagram Storynya pada Kamis (8/1/2026).
Pelantun lagu “Bertaut” dalam unggahannya, mengungkapkan kondisi ini membuat kemampuan bernyanyinya menurun.
Meskipun begitu, Nadin masih bisa bernyanyi dan perform di panggung, tetapi harus menjalani rehabilitasi speech therapy untuk memulihkan kondisinya.
Istilah Disfonia Spasmodik mungkin cukup asing bagi orang-orang awam. Lantas, apa sebenarnya kondisi langka yang diidap oleh Nadin ini?
Mengenal Disfonia Spasmodik
Melansir penjelasan medis dari Apollohospitals.com, Disfonia Spasmodik (SD) adalah sebuah kelainan suara yang tergolong langka namun memiliki dampak signifikan terhadap kemampuan bicara seseorang.
Secara definisi, Disfonia Spasmodik ini adalah kondisi neurologis yang menyebabkan kontraksi otot atau kejang yang tidak disengaja di laring (kotak suara).
Kejang otot yang tak sadar ini mengakibatkan gangguan pada suara, membuat penderitanya sulit berbicara dengan jelas dan lancar.
Kondisi ini tergolong gangguan suara yang langka namun memiliki dampak besar karena memengaruhi kemampuan seseorang untuk berbicara dengan jelas dan lancar.
Akibat kejang pada pita suara tersebut, suara penderita bisa terdengar tegang, seperti tercekik, atau napasnya menjadi pendek.
Kondisi ini diklasifikasikan menjadi tiga jenis utama, yaitu:
1. Disfonia Spasmodik Adduktor
Pada kondisi yang paling sering dijumpai ini, suara penderita menjadi terdengar lebih serak dan tegang seolah-olah sedang tercekik karena pita suara yang tegang secara berlebihan.
2. Disfonia Spasmodik Abduktor
Kondisi ini berbeda dan tergolong lebih langka dari jenis sebelumnya.
Pita suara justru cenderung terlalu longgar, sehingga suara penderita menjadi terdengar lebih pelan seolah kehabisan napas.
3. Disfonia Spasmodik Campuran
Kondisi ini adalah gabungan kompleks dari gejala adduktor dan abduktor.
Penderita akan merasakan suaranya menjadi tidak stabil, seperti terdengar tegang dan terengah-engah di waktu tertentu.
Siapa yang Berisiko dan Apa Penyebabnya?
Hingga saat ini, penyebab pasti dari kondisi Disfonia Spasmodik masih belum sepenuhnya jelas.
Namun, para peneliti menduga adanya beberapa faktor seperti lingkungan (seperti paparan racun atau infeksi tertentu) dan predisposisi genetik atau riwayat gangguan suara dari keluarga yang mungkin juga bisa berperan.
Selain itu, gaya hidup yang tidak sehat (merokok, konsumsi alkohol, dan stress) juga dapat memperburuk kondisi suara.
Baca Juga: Comeback! Harry Styles Segera Rilis Album Baru “Kiss All The Time. Disco, Occasionally”
Meski penyebabnya masih belum, terdapat faktor risiko yang spesifik, sebagai berikut:
- Faktor Usia: Kelompok rentang usia antara 30 hingga 50 tahun adalah kalangan yang paling sering terdiagnosis mengalami kondisi ini.
- Jenis Kelamin: Perempuan memiliki tingkat kerentanan yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki untuk mengidap gangguan ini, dengan estimasi perbandingan kasus mencapai 3:1.
- Lokasi Geografis: Sejumlah riset mengindikasikan bahwa gangguan ini lebih sering ditemukan di wilayah-wilayah geografis tertentu.
- Kondisi Kesehatan: Orang yang sudah memiliki riwayat gangguan neurologis lain, seperti penyakit Parkinson atau tremor esensial, cenderung memiliki risiko lebih besar untuk terkena kondisi ini.
Gejala Umum Disfonia Spasmodik
Gejala dari kondisi Disfonia Spasmodik bisa bervariasi tergantung pada jenis dan tingkat keparahan yang dialami penderita. Berikut adalah tanda-tanda umum yang perlu diwaspadai:
- Suara Tertekan dan Gagap: Penderita kerap merasa kesulitan saat hendak berbicara. Akibatnya, suara yang keluar terdengar seperti tegang atau tersendat.
- Sesak Napas: Pada penderita tipe tertentu, suara justru tidak terdengar keras, melainkan menjadi sangat lemah, lembut seperti berbisik, seperti orang yang sedang sesak napas.
- Jeda Suara: Kelancaran dan kestabilan saat sedang berbicara atau bersuara sering kali terganggu karena adanya jeda yang tidak disengaja.
- Ketegangan di area Leher dan Tenggorokan: Ada juga beberapa penderita yang merasakan gejala fisik berupa rasa tegang di sekitar leher dan tenggorokan, terutama saat untuk berbicara.
Apakah Bisa Disembuhkan?
Hingga saat ini juga belum ada obat yang bisa menyembuhkan kondisi Disfonia Spasmodik secara total.
Kendati demikian, gejalanya bisa dikelola dengan melakukan beberapa pengobatan.
Beberapa opsi penanganan medis meliputi penyuntikan toksin botulinum (Botox) ke pita suara untuk mengurangi kejang otot, penggunaan obat-obatan relaksan, hingga pembedahan untuk kasus yang lebih parah.
Selain itu, pendekatan non-medis seperti terapi suara sangat disarankan.
Terapi ini melibatkan ahli patologi wicara untuk membantu penderita mengembangkan strategi bicara yang lebih baik dan mengurangi ketegangan pada leher.
Strategi Pencegahan Disfonia Spasmodik
Meskipun belum ada metode yang pasti untuk mencegah Disfonia Spasmodik, beberapa langkah strategis dapat diambil untuk meminimalkan risikonya.
Pencegahan ini berfokus pada menjaga kesehatan sistem saraf dan imunitas tubuh:
- Vaksinasi Rutin: Lakukan vaksinasi untuk mencegah infeksi yang berpotensi menyerang sistem saraf.
- Jaga Kebersihan: Rajin mencuci tangan dan hindari kontak dengan orang sakit agar tidak mudah tertular infeksi.
- Perubahan Gaya Hidup: Lakukan teknik relaksasi, seperti yoga atau meditasi, demi menjaga kesehatan produksi suara.
- Perubahan Pola Makan: Perbanyak konsumsi makanan kaya antioksidan dan anti peradangan untuk meningkatkan kesehatan secara keseluruhan.
(Aqbil Faza Maulana)
Editor : Meitika Candra Lantiva