Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Gua–Lu atau Gue–Lo? Ini Bedanya Secara Sosial dan Sejarah Bahasa

Magang Radar Malioboro • Senin, 19 Januari 2026 | 10:35 WIB
Ilustrasi penggunaan kata gua-lu dan gue-lo yang secara luas diadaptasi oleh masyarakat Jakarta sekitarnya. (AI)
Ilustrasi penggunaan kata gua-lu dan gue-lo yang secara luas diadaptasi oleh masyarakat Jakarta sekitarnya. (AI)

RADAR MALIOBORO - Di Jakarta dan sekitarnya, sapaan gua–lu dan gue–lo sering dianggap sama. Padahal, keduanya punya nuansa sosial dan latar sejarah yang berbeda, terutama jika ditarik ke akar dialek Betawi.

Perbedaan ini berasal dari dua ragam besar bahasa Betawi: Betawi dalam (tengah) dan Betawi luar (pinggiran). Betawi dalam cenderung menggunakan bunyi é di akhir kata dan sapaan gue–lo, sedangkan Betawi luar lebih sering memakai bunyi a’ serta sapaan gua–lu. Contohnya terlihat pada pengucapan kemané versus kemana’.

Dalam praktiknya, gue–lo identik dengan Betawi pusat, yang dulu banyak dituturkan di kawasan Jakarta Kota, Glodok, Petojo, hingga Senen. Ragam ini populer lewat figur publik seperti Benyamin Sueb dan Ida Royani. Sementara itu, gua–lu lebih lekat dengan Betawi pinggiran, seperti Condet, Jatinegara, Depok, hingga Ciputat, dan kerap diasosiasikan dengan logat tokoh Mandala dalam serial Si Doel Anak Sekolahan.

Baca Juga: Semua Terlihat Baik di Media Sosial, Padahal Kenyataannya Tak Selalu Begitu

Menariknya, kedua bentuk sapaan ini bukan murni berasal dari bahasa Betawi. Mengutip penjelasan Agni Malagina, sinolog dari Universitas Indonesia, kata gua/gue dan lu/lo merupakan serapan dari bahasa Tionghoa dialek Hokkien. Kata tersebut berasal dari 我 (goa) yang berarti “saya” dan 汝/你 (lu) yang berarti “kamu”. Seiring waktu, pengucapannya beradaptasi dengan fonologi lokal dan menyebar ke berbagai lapisan masyarakat Jakarta.

Dari sisi nuansa, gua–lu sering terdengar lebih lugas dan “kasar santai”, sementara gue–lo dianggap sedikit lebih halus secara fonetis. Namun, perbedaan ini bukan soal sopan atau tidak sopan secara mutlak, melainkan konteks sosial dan kebiasaan komunitas penuturnya.

Saat ini, dengan penngaruh urbanisasi, media, dan pergaulan lintas wilayah membuat kedua bentuk itu bercampur bebas, bahkan digunakan oleh penutur non-Betawi hingga penutur luar Jakarta itu sendiri. 

(Affrendi Kurniawan)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#gue #lu #LO #sosial #sejarah #beda #gua