RADAR MALIOBORO - Black box pesawat menjadi komponen kunci dalam setiap penyelidikan kecelakaan penerbangan karena mampu merekam data teknis dan percakapan kokpit sebelum insiden terjadi.
Fungsi alat ini kembali menjadi sorotan setelah pesawat ATR 42-500 dari Jogja yang sebelumnya dilaporkan hilang kontak di Sulawesi Selatan, sudah ditemukan dalam operasi pencarian Basarnas. Tim SAR menemukan badan pesawat di kawasan pegunungan dengan kondisi cuaca berkabut dan angin kencang. Dalam kasus seperti ini, black box menjadi kunci untuk merekonstruksi detik-detik terakhir penerbangan.
Black box terdiri dari dua bagian utama: Flight Data Recorder (FDR) dan Cockpit Voice Recorder (CVR).
Baca Juga: Mitos Tokek di Rumah Menurut Kepercayaan Lokal dan Islam, Benarkah Sama?
FDR merekam data teknis penerbangan seperti kecepatan, ketinggian, sudut pesawat, hingga kondisi mesin. Sementara CVR menyimpan rekaman suara di kokpit, termasuk komunikasi pilot dan bunyi peringatan sebelum kecelakaan. Data inilah yang digunakan penyelidik untuk mengetahui apakah insiden dipicu faktor cuaca, teknis, atau kesalahan manusia.
Black box dirancang untuk bertahan dalam kondisi ekstrem. Bagian memori intinya dilindungi Crash Survival Memory Unit (CSMU) yang terbuat dari baja atau titanium, dilapisi insulasi panas berlapis. Perangkat ini diuji tahan benturan keras, tekanan laut hingga ribuan meter, serta suhu tinggi akibat kebakaran.
Baca Juga: Udara Dingin Meski Hujan Reda, Ini Bahan Pakaian yang Tetap Nyaman Dipakai
Jika jatuh ke laut, black box juga dilengkapi underwater locator beacon yang memancarkan sinyal hingga sekitar 30 hari untuk memudahkan pencarian.
Melansir laporan dan konferensi resmi KNKT, tanpa black box, penyelidikan hanya akan bergantung pada puing-puing dan spekulasi tim pencarian, sehingga tidak cukup untuk memastikan penyebab kecelakaan secara akurat.
(Affrendi Kurniawan)