RADAR MALIOBORO - Masjidil Haram adalah masjid paling suci bagi umat Islam yang terletak di Mekkah, Arab Saudi. Masjid ini menjadi pusat ibadah haji dan umrah, sekaligus tempat berkumpul jutaan jemaah dari seluruh dunia setiap tahunnya. Di sinilah Ka’bah berada, arah kiblat umat Muslim di seluruh penjuru bumi.
Sebagai ruang ibadah terbuka yang menampung jutaan orang, Masjidil Haram menghadapi tantangan ekstrem: cuaca Arab Saudi yang bisa menembus lebih dari 45 derajat Celsius. Namun ada satu hal yang hampir selalu bikin jemaah takjub, dimana lantai disana tetap terasa dingin, meskipun terkena cahaya matahari secara langsung, bahkan saat matahari sedang terik-teriknya.
Rahasianya adalah lantai Masjidil Haram dilapisi marmer putih jenis Thassos, marmer premium yang dikenal memiliki daya serap panas sangat rendah. Material ini tidak cepat menyimpan panas matahari, sehingga permukaannya tetap sejuk meski terpapar suhu tinggi dalam waktu lama.
Marmer Thassos berasal dari Pulau Thassos, Yunani, dan sudah digunakan sejak era Yunani Kuno. Marmer ini memantulkan cahaya matahari, bukan menyimpannya. Itu sebabnya, jemaah masih bisa berjalan tanpa alas kaki di siang hari tanpa merasa terbakar.
Pemerintah Arab Saudi juga memasang sistem pendingin bawah tanah yang mengalirkan udara dingin dari pusat pendingin raksasa ke area masjid. Sistem ini menjaga suhu lantai tetap nyaman bagi jemaah. Teknologi ini dirancang khusus untuk ruang terbuka luas, karena pendinginan udara biasa tidak akan efektif untuk area sebesar Masjidil Haram.
Menurut keterangan resmi pemerintah Arab Saudi, perawatan Masjidil Haram dilakukan tanpa henti, bahkan di luar musim haji. Marmer lantai dibersihkan secara berkala agar pori-porinya tidak tertutup debu dan tetap bekerja optimal dalam menahan panas.
Jadi, dinginnya lantai Masjidil Haram bukan keajaiban semata, melainkan hasil perpaduan penerapan sains, teknologi, dan perawatan serius. Semua ini dilakukan demi memastikan ibadah umat Muslim bisa berlangsung dengan khusyuk, aman, dan manusiawi.
(Affrendi Kurniawan)
Editor : Iwa Ikhwanudin