RADAR MALIOBORO - Ramadan 1447 H tinggal menghitung waktu. Di tengah suasana yang mulai dipenuhi selamat menyambut bulan suci, tidak sedikit orang yang justru menyimpan perasaan lain dan diam-diam merasa belum siap.
Perasaan ini jarang dibicarakan secara terbuka. Banyak orang memilih memendamnya karena khawatir dianggap kurang beriman atau tidak bersyukur. Secara psikologis, rasa tidak siap menjelang Ramadan merupakan hal yang cukup umum terjadi.
Rasa Bersalah yang Datang Tanpa Disadari
Salah satu perasaan yang sering muncul adalah rasa bersalah. Banyak orang mulai mengingat kebiasaan sehari-hari yang dirasa belum berubah, target ibadah yang belum tercapai, atau perilaku yang ingin diperbaiki namun terus tertunda.
Alih-alih memotivasi, ingatan tersebut justru bisa memicu kecemasan. Muncul pikiran seperti “harusnya aku sudah lebih baik” atau “kenapa setiap tahun rasanya masih sama.” Rasa bersalah ini sering datang tanpa disadari dan pelan-pelan memengaruhi kondisi emosional.
Cemas Menghadapi Standar ‘Ramadan Ideal’
Selain rasa bersalah, tekanan sosial juga ikut berperan. Di media sosial maupun lingkungan sekitar, Ramadan kerap digambarkan dengan standar tertentu ibadah yang konsisten, emosi yang lebih tenang, hingga hidup yang terasa lebih tertata.
Tanpa disadari, standar ini membuat sebagian orang membandingkan diri sendiri dengan gambaran ideal tersebut. Akibatnya, muncul rasa tidak percaya diri dan takut tidak mampu menjalaninya dengan “sempurna”, bahkan sebelum Ramadan benar-benar dimulai.
Tak Siap Bukan Berarti Lemah
Dari sisi psikologis, perasaan tidak siap justru menunjukkan adanya kesadaran diri. Ini menandakan seseorang sedang berada dalam fase refleksi, mengevaluasi diri, dan memikirkan makna perubahan.
Para psikolog menilai bahwa tekanan untuk langsung berubah secara drastis sering kali justru memberatkan. Perubahan yang sehat biasanya dimulai dari langkah kecil dan realistis, bukan dari tuntutan yang terlalu tinggi terhadap diri sendiri.
Ramadan sebagai Proses, Bukan Kompetisi
Menjelang Ramadan, penting untuk menyadari bahwa setiap orang memiliki ritme dan prosesnya masing-masing. Ramadan bukan ajang pembuktian atau perlombaan untuk terlihat paling siap, melainkan ruang untuk bertumbuh secara perlahan.
Merasa belum siap bukan tanda kegagalan. Justru, perasaan itu bisa menjadi titik awal untuk menjalani Ramadan dengan lebih jujur, lebih manusiawi, dan lebih sesuai dengan kondisi diri sendiri.
(Aribah Zalfa Nur Aini)