RADAR MAIOBORO - Buat driver ShopeeFood pemula, sering muncul pertanyaan: apakah lebih enak main reguler atau daftar Hub? Di grup Facebook dan kolom komentar TikTok, topik ini hampir nggak pernah sepi dibahas oleh para driver. Ada yang bilang Hub lebih direkomendasikan, ada juga yang menyebut reguler lebih cuan. Masalahnya, kalau nggak paham bedanya dari awal, driver baru bisa capek sendiri di jalan.
Secara sistem, Shopee memang menyediakan dua skema utama untuk mitra pengemudi, yakni Skema Reguler dan Skema Hub. Keduanya sama-sama resmi, tapi cara kerja dan hasil akhirnya cukup berbeda.
Skema Hub sendiri merupakan fitur opsional yang memungkinkan driver mengambil pesanan dari area dan layanan tertentu dalam slot waktu yang sudah ditentukan. Biasanya, pesanan yang masuk di Hub didominasi oleh ShopeeFood. Artinya, selama slot jam Hub berlangsung, driver hanya akan menerima order dari area Hub yang dipilih dan tidak perlu berpindah-pindah ke daerah lain.
Bagi sebagian driver, terutama pemula, Hub dianggap lebih aman. Alasannya sederhana, yaitu pesanan relatif terjamin. Dalam satu slot, driver Hub bisa mendapatkan sekitar 6 sampai 10 pesanan. Karena itu, Hub sering dipilih oleh driver yang baru mulai, ingin mengisi waktu, atau sekadar narik santai tanpa harus kelamaan mencari orderan.
Namun, di balik pesanan yang relatif stabil, ada konsekuensi yang harus diterima. Argo di Hub cenderung lebih kecil dibanding reguler. Di banyak daerah, argo minimum Hub berada di kisaran Rp5.600 hingga Rp6.400 per order. Secara jumlah order memang lumayan, tapi kalau dihitung total, penghasilannya sering kali masih kalah dibanding reguler di jam ramai. Belum lagi, driver Hub wajib hadir sesuai slot yang sudah didaftarkan. Jika bolos atau melanggar ketentuan sistem, risikonya bisa berupa suspensi sementara hingga penarikan tambahan pembayaran.
Berbeda dengan Hub, Skema Reguler menawarkan kebebasan penuh. Driver tidak terikat slot waktu, bebas berpindah area, dan bisa menerima berbagai jenis order, baik makanan maupun barang. Argo di reguler juga relatif lebih besar, mulai dari Rp8.000 hingga bisa tembus Rp12.000, tergantung jenis layanan dan jarak. Selain itu, di reguler masih ada peluang mendapatkan insentif tambahan.
Masalahnya, kebebasan ini datang dengan risiko yang tidak kecil. Order di reguler tidak selalu ramai. Banyak driver mengeluhkan kondisi anyep atau sepi, terutama di jam-jam kerja atau di area yang sudah terlalu padat mitra. Bahkan belakangan, beberapa driver menyebut order makanan di reguler makin sepi karena banyak pengemudi beralih ke Hub demi mengejar food only dan menghindari paket barang yang berat.
Di titik ini, pilihan antara Hub dan reguler sebenarnya kembali ke tujuan masing-masing driver. Jika targetnya adalah belajar ritme narik, memahami alur order, dan menghindari pulang zonk, Hub bisa jadi pintu masuk yang bagus. Namun, jika tujuannya mengejar penghasilan lebih besar dan sudah paham jam serta area ramai, reguler memberi ruang yang lebih luas.
Tak sedikit driver berpengalaman yang akhirnya mengombinasikan keduanya. Main Hub di jam tertentu untuk menjaga stabilitas, lalu pindah ke reguler saat jam ramai demi mengejar argo dan insentif. Strategi ini biasanya baru efektif setelah driver benar-benar paham situasi dan kondisi di area tersebut.
(Affrendi Kurniawan)
Editor : Iwa Ikhwanudin