Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Tradisi Ramadan yang Perlahan Menghilang di Lingkungan Kita

Iwa Ikhwanudin • Minggu, 1 Februari 2026 | 07:01 WIB
Ilustrasi tradisi Ramadan yang perlahan menghilang di lingkungan kita. (Pinterest)
Ilustrasi tradisi Ramadan yang perlahan menghilang di lingkungan kita. (Pinterest)

RADAR MALIOBORO - Ramadan dulu identik dengan suasana yang hangat dan ramai. Menjelang malam, suara tadarus terdengar dari musala dan rumah warga. Menjelang sahur, anak-anak dan remaja berkeliling kampung membangunkan warga dengan kentongan. Saat berbuka, tetangga saling berbagi makanan tanpa perlu janjian.

Namun kini, suasana itu pelan-pelan berubah.

Di banyak lingkungan, tradisi tadarus bersama mulai jarang terlihat. Aktivitas membaca Al-Qur’an masih ada, tetapi lebih sering dilakukan secara pribadi. Sahur keliling pun semakin jarang terdengar, tergeser oleh alarm ponsel yang lebih praktis. 

Buka puasa bersama tetangga yang dulu spontan, kini berganti dengan buka bersama di restoran atau kafe.

Perubahan ini tidak terjadi tanpa sebab. Gaya hidup masyarakat yang semakin sibuk menjadi salah satu faktor utama. Jam kerja yang panjang, mobilitas tinggi, serta aktivitas digital membuat interaksi antarwarga tidak lagi seintens dulu. 

Banyak orang memilih beribadah sendiri di rumah karena dinilai lebih efisien dan nyaman.

Modernisasi juga membawa perubahan cara orang memaknai kebersamaan. Media sosial, misalnya, membuat orang tetap “terhubung” tanpa harus bertemu langsung. 

Sayangnya, kedekatan secara digital tidak selalu mampu menggantikan kehangatan interaksi nyata di lingkungan sekitar.

Meski begitu, hilangnya sebagian tradisi bukan berarti nilai Ramadan ikut memudar. Nilai kebersamaan, kepedulian, dan saling berbagi tetap bisa dijaga, hanya dengan cara yang berbeda. 

Beberapa lingkungan mulai menghidupkan kembali buka puasa sederhana di masjid, berbagi takjil bersama, atau tadarus mingguan yang lebih fleksibel.

Ramadan sejatinya bukan soal mempertahankan tradisi lama secara kaku, melainkan menjaga makna di baliknya. Di tengah perubahan zaman, kebersamaan masih bisa tumbuh, selama ada niat untuk saling menyapa, berbagi, dan hadir satu sama lain.

Baca Juga: Sering Ngerasa Miskomunikasi di Tempat Kerja? Ini Cara Sederhana untuk Mengatasinya

Mungkin bentuknya tak lagi sama seperti dulu. Tapi selama nilai itu tetap hidup, Ramadan akan selalu punya tempat istimewa di lingkungan kita.

(Aribah Zalfa Nur Aini)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#ramadan #puasa #budaya