RADAR MALIOBORO - Di tengah kemudahan berkomunikasi saat ini, rasa kesepian justru menjadi isu yang semakin sering dirasakan. Ponsel selalu di tangan, notifikasi datang silih berganti, dan media sosial penuh dengan aktivitas. Namun di balik semua itu, banyak orang merasa tidak nyaman saat harus benar-benar sendirian.
Ketakutan akan kesendirian sering muncul dalam bentuk sederhana.
Merasa gelisah saat tidak ada pesan masuk, cemas ketika unggahan sepi respons, atau merasa hampa ketika tidak sedang berbincang dengan siapa pun. Sedangkan, secara fisik, tidak ada yang berubah. Yang berubah adalah cara manusia memaknai kebersamaan.
Era digital membuat interaksi menjadi cepat dan instan. Validasi sosial bisa didapat dalam hitungan detik.
Tanpa disadari, hal ini membentuk ketergantungan. Ketika interaksi itu berhenti, muncul rasa kosong yang sulit dijelaskan. Sendirian terasa seperti kehilangan, bukan sebagai ruang untuk beristirahat.
Selain itu, budaya selalu terhubung membuat banyak orang jarang berhadapan dengan dirinya sendiri. Waktu hening sering diisi dengan layar.
Kesempatan untuk berpikir, merenung, atau sekadar diam menjadi semakin langka. Akibatnya, kesendirian terasa asing dan menakutkan.
Kesendirian tidak selalu berarti kesepian. Ada perbedaan antara merasa sendiri dan merasa terisolasi.
Sendirian bisa menjadi momen untuk mengenal diri, memproses emosi, dan memahami apa yang sebenarnya dibutuhkan. Sayangnya, hal ini jarang dibiasakan.
Takut sendirian di era digital adalah tanda bahwa keseimbangan perlu dibangun kembali. Koneksi sosial memang penting, tetapi hubungan dengan diri sendiri tak kalah krusial.
Belajar nyaman dengan kesendirian bukan berarti menjauh dari orang lain, melainkan memberi ruang agar hubungan sosial yang terjalin lebih sehat.
Di dunia yang semakin ramai secara digital, kemampuan untuk berdamai dengan kesendirian justru menjadi bentuk kekuatan yang sering terlupakan.
(Aribah Zalfa Nur Aini)