Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Epstein Files Resmi Dibuka Pemerintah AS, Lebih dari Tiga Juta Dokumen Ungkap Jejak Relasi Jeffrey Epstein dengan Elite Global

Magang Radar Malioboro • Rabu, 4 Februari 2026 | 11:13 WIB
Pemerintah AS merilis jutaan dokumen terkait kasus Jeffrey Epstein.
Pemerintah AS merilis jutaan dokumen terkait kasus Jeffrey Epstein.

RADAR MALIOBORO - Pemerintah Amerika Serikat resmi membuka jutaan dokumen terkait kasus Jeffrey Epstein, pelaku kejahatan seksual yang meninggal dunia di penjara pada 2019.

Departemen Kehakiman Amerika Serikat atau DOJ merilis lebih dari tiga juta halaman dokumen, ratusan ribu foto, serta ribuan video, menjadikannya salah satu pembukaan arsip terbesar dalam sejarah penanganan kasus Epstein.

Langkah ini dilakukan untuk memenuhi amanat Epstein Files Transparency Act yang disahkan pada 2024.

Meski demikian, DOJ sempat menuai kritik karena dinilai terlambat memenuhi tenggat waktu yang ditetapkan undang-undang.

Pemerintah menyebut rilis arsip ini sebagai bentuk transparansi kepada publik, tetapi perdebatan muncul mengenai apakah seluruh dokumen benar-benar telah dibuka secara menyeluruh.

Apa Itu Epstein Files?

Epstein Files merujuk pada kumpulan arsip resmi pemerintah AS yang berisi dokumen penyelidikan, bukti komunikasi, laporan internal, serta materi pendukung lain terkait kasus kejahatan seksual yang melibatkan Jeffrey Epstein.

Arsip ini mencakup periode panjang aktivitas Epstein, termasuk relasinya dengan sejumlah tokoh berpengaruh dari dunia politik, bisnis, dan kelompok elit internasional.

Pembukaan dokumen ini bertujuan untuk memberikan akuntabilitas publik sekaligus menjawab kecurigaan lama soal kemungkinan perlindungan terhadap individu-individu berkuasa yang berada di lingkaran Epstein.

Isi Dokumen dan Lingkaran Terdekat Epstein


Dokumen yang dirilis mencakup beragam materi, mulai dari catatan internal lembaga penegak hukum, laporan psikologis Epstein selama menjalani hukuman, hingga detail kematiannya saat berada dalam tahanan.

Arsip tersebut juga memuat hasil penyelidikan terhadap orang-orang di lingkaran dekat Epstein, termasuk Ghislaine Maxwell, yang telah divonis bersalah karena membantu Epstein merekrut dan memperdagangkan anak di bawah umur.

Sejumlah dokumen lama menunjukkan bahwa Epstein tetap mempertahankan jaringan pertemanan dengan tokoh-tokoh berpengaruh, meskipun ia telah berstatus terpidana dalam kasus kejahatan seksual sejak 2008.

Sorotan pada Elite Inggris


Salah satu fokus perhatian publik tertuju pada keterkaitan Epstein dengan kalangan elite Inggris.

Dalam dokumen tersebut, terdapat sejumlah email yang memperlihatkan komunikasi antara Jeffrey Epstein dan individu yang disebut sebagai “The Duke”, yang diyakini merujuk pada Pangeran Andrew.

Email-email tersebut membahas rencana pertemuan privat hingga tawaran perkenalan dengan seorang perempuan muda asal Rusia.

Rilis terbaru juga memuat foto yang memicu kontroversi karena menampilkan sosok yang diduga Pangeran Andrew dalam posisi yang dinilai tidak pantas.

Selain itu, terdapat email lanjutan yang menunjukkan komunikasi masih berlangsung setelah Andrew sebelumnya menyatakan telah memutus hubungan dengan Epstein.

Nama Sarah Ferguson, mantan istri Pangeran Andrew, juga tercatat dalam sejumlah email lama.

Dalam email tersebut, Ferguson terlihat masih menjalin hubungan baik dengan Epstein, bahkan menyampaikan pujian, pada periode ketika Epstein sedang menjalani hukuman.

Fakta ini memperkuat gambaran bahwa Epstein tetap diterima di lingkungan sosial tertentu meskipun reputasi dan status hukumnya telah diketahui luas.

Nama-Nama Besar Dunia Bisnis dan Politik


Selain tokoh Inggris, Epstein Files juga memuat nama-nama besar dari dunia bisnis dan politik internasional.

Richard Branson, pendiri Virgin Group, disebut dalam sejumlah catatan komunikasi yang kemudian diklarifikasi oleh pihak perusahaannya sebagai konteks bisnis dan pertemanan terbatas.

Nama Elon Musk muncul dalam email yang membahas rencana perjalanan dan kemungkinan kunjungan ke pulau milik Epstein.

Namun, tidak terdapat bukti bahwa rencana tersebut benar-benar terealisasi.

Musk menegaskan bahwa dirinya tidak pernah terlibat dalam kejahatan Epstein dan menyatakan telah berulang kali menolak undangan ke pulau tersebut maupun untuk terbang menggunakan pesawat Epstein.

“Saya hanya punya sedikit komunikasi dengan Epstein dan menolak beberapa kali undangannya untuk pergi ke pulau miliknya atau terbang dengan pesawatnya Lolita Express. Namun, saya sadar bahwa beberapa korespondensi email dengannya bisa disalahartikan dan dipakai oleh pihak yang tidak suka untuk mencemarkan nama saya,” tulis Elon Musk melalui akun X pribadinya, Sabtu (31/1/2026).

Nama Bill Gates juga tercantum dalam dokumen, terutama melalui email yang berisi klaim sensasional yang dikaitkan dengan Epstein.

Pihak Gates membantah keras tuduhan tersebut dan menyatakan bahwa isi email itu tidak berdasar serta mencerminkan upaya Epstein mencemarkan nama baik setelah hubungan mereka berakhir.

Sementara itu, Donald Trump, Presiden Amerika Serikat, disebut ratusan kali dalam arsip yang dirilis.

Trump mengakui pernah mengenal Epstein, tetapi menyatakan bahwa hubungan tersebut telah lama berakhir dan ia tidak mengetahui aktivitas kriminal Epstein.

Dokumen juga memuat daftar laporan masyarakat yang masuk ke Federal Bureau of Investigation (FBI), termasuk yang menyebut Trump dan tokoh lainnya.

Namun, banyak laporan tersebut dikategorikan sebagai klaim tidak terverifikasi dan tidak disertai bukti pendukung.

Pemerintah AS menegaskan bahwa tuduhan-tuduhan tersebut tidak pernah terbukti secara hukum.

“Sebagian dokumen memuat klaim yang tidak benar dan bersifat sensasional terhadap Presiden Trump, yang disampaikan kepada FBI menjelang pemilu 2020. Klaim-klaim tersebut tidak berdasar dan tidak benar,” kata DOJ AS kepada media.

Kritik Soal Perlindungan Korban


Di balik sorotan terhadap tokoh-tokoh berpengaruh, perhatian serius juga tertuju pada isu perlindungan korban.

Sejumlah pengacara dan aktivis hak perempuan mengkritik proses pembukaan dokumen karena dinilai masih membocorkan identitas penyintas.

Dalam beberapa arsip, nama korban disebut masih dapat terbaca meski telah disensor sebagian.

Selain itu, foto korban yang sebelumnya tidak pernah muncul di ruang publik juga ikut terunggah.

Kondisi ini dinilai berpotensi memperparah trauma korban, terutama karena dokumen-dokumen tersebut sempat diunduh dan disebarluaskan sebelum perbaikan sensor dilakukan.

DOJ menyatakan tengah melakukan penyensoran tambahan, namun kritik menyebut langkah tersebut tidak lagi efektif setelah informasi terlanjur beredar luas.

Transparansi yang Masih Dipertanyakan


Hingga kini, polemik seputar Epstein Files belum sepenuhnya mereda.

Pemerintah AS menyatakan bahwa proses identifikasi dan peninjauan dokumen telah selesai, kecuali sejumlah kecil arsip yang masih menunggu persetujuan pengadilan.

Namun, sejumlah anggota parlemen menilai masih terdapat jutaan halaman dokumen yang belum dirilis tanpa penjelasan yang memadai.

Perbedaan klaim ini kembali memunculkan kecurigaan lama bahwa kasus Epstein melibatkan upaya sistematis untuk melindungi individu-individu kaya dan berkuasa. (Alya Ruhadatul Nabilah Aisy)

Editor : Meitika Candra Lantiva
#jeffrey epstein #Epstein #amerika serikat #dokumen #Departemen Kehakiman #Epstein Files #elite global #pemerintah as