RADAR MALIOBORO - Banyak orang masih memandang satuan pengamanan (satpam) sebagai profesi yang hanya bertugas untuk berdiri, berjaga, dan memastikan lingkungan tetap aman.
Pandangan itu terasa wajar karena itulah yang paling sering terlihat di permukaan.
Namun, persepsi tersebut mulai bergeser ketika nama Khoirul Anam muncul ke ruang publik dan viral di media sosial.
Bukan karena aksi heroik di lapangan, melainkan karena karya ilmiah dan prestasi intelektual yang lahir dari profesi yang kerap dipandang sederhana.
Melansir jurnalsecurity.com, Khoirul Anam, S.M., S.Pd., M.M., CHRMP, merupakan anggota satpam PT Prima Karya Sarana Sejahtera (PKSS) yang bertugas di BRI Kantor Cabang Jakarta Tanjung Priok.
Dari pos pengamanan perbankan inilah, ia membuktikan bahwa pikiran dapat melangkah jauh, bahkan ketika tubuh setiap hari berdiri di tempat yang sama.
Rutinitas yang Tampak Biasa, tapi Tidak Dijalani dengan Cara Biasa
Sehari-hari, Anam menjalankan tugas layaknya satpam pada umumnya, yakni menyambut nasabah, mengatur alur keluar masuk, serta memastikan situasi tetap aman dan tertib.
Tidak ada yang tampak istimewa dari rutinitas tersebut. Namun, yang membedakan Anam adalah cara ia memaknai pekerjaannya.
Di sela tugas, ia terbiasa mencatat. Bukan sekadar laporan formal, melainkan catatan reflektif tentang apa yang ia lihat, alami, dan pelajari.
Kebiasaan sederhana ini menjadi fondasi perjalanan intelektualnya.
Saat banyak orang menganggap pekerjaan sebagai rutinitas melelahkan, Anam justru melihatnya sebagai sumber pengetahuan.
Menulis dari Arsip Tugas hingga Karya Ilmiah
Produktivitas menulis Anam tidak berawal dari ambisi besar, melainkan dari laporan tugas harian.
Catatan yang biasanya berakhir di lemari arsip ia baca ulang, susun kembali, dan renungkan.
Dari sana, catatan berkembang menjadi artikel, artikel menjelma karya ilmiah, dan kemudian berlanjut pada penulisan buku akademik yang dipublikasikan secara nasional.
Proses itu berjalan perlahan, konsisten, dan jauh dari sorotan.
Melansir solobalapan.jawapos.com, hingga kini Anam telah menerbitkan delapan buku ber-ISBN yang terdaftar di Perpustakaan Nasional, sementara tiga buku lain masih dalam tahap penulisan.
Selain itu, ia juga menulis 13 karya ilmiah yang terpublikasi di jurnal nasional dan internasional.
Pendidikan yang Diperjuangkan di Tengah Tugas
Di balik seragam satpam, Khoirul Anam memiliki latar akademik yang panjang.
Ia menyelesaikan Sarjana Manajemen, Sarjana Pendidikan, hingga Magister Manajemen, serta melengkapi dirinya dengan sertifikasi Certified Human Resource Management Professional (CHRMP).
Semua jenjang pendidikan itu ditempuh sambil tetap bekerja.
Baginya, belajar bukan sesuatu yang ditunggu hingga kondisi sempurna, melainkan sesuatu yang harus dikejar.
Ilmu manajemen, pendidikan, dan sumber daya manusia yang ia pelajari tidak berhenti sebagai teori, tetapi diterapkan langsung dalam pengalaman nyata sebagai petugas pengamanan.
Tantangan Waktu dan Biaya
Perjalanan akademik Anam bukan tanpa hambatan.
Tantangan terbesarnya adalah pengelolaan waktu.
Tuntutan pekerjaan yang membutuhkan fisik prima sering memaksanya mengorbankan waktu istirahat demi riset dan penulisan.
Selain itu, biaya publikasi jurnal ilmiah, terutama di jurnal bereputasi, menjadi kendala tersendiri.
Dengan penghasilan sebagai satpam, ia harus berjuang ekstra agar karya-karyanya tetap bisa terbit dan diakses publik.
Karya sebagai Jejak Hidup
Bagi Anam, menulis bukan tentang popularitas.
Ia memandang karya sebagai jejak yang akan tertinggal.
Prinsip inilah yang membuatnya tetap menulis meski lelah, sibuk, dan tidak selalu mendapat perhatian.
Ia percaya bahwa manusia tidak diingat dari seberapa sering ia muncul di depan publik, melainkan dari apa yang ia tinggalkan.
Karya, menurutnya, adalah bentuk tanggung jawab terhadap hidup dan profesi yang dijalani.
Menjaga Tubuh untuk Menjaga Pikiran
Produktivitas Anam juga ditopang oleh kedisiplinan gaya hidup.
Ia gemar berlari jarak jauh dan rutin mengikuti berbagai kegiatan lari.
Aktivitas ini bukan sekadar olahraga, tetapi juga ruang untuk melatih ketahanan mental dan menjernihkan pikiran.
Di tengah langkah kaki dan napas yang teratur, ide-ide tulisan sering muncul.
Baginya, disiplin tubuh dan disiplin berpikir adalah dua hal yang berjalan beriringan.
Rekor MURI: Pengakuan atas Kerja Sunyi
Puncak perjalanan panjang itu datang pada Jumat (30/1/2026), ketika Khoirul Anam resmi menerima penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai anggota satuan pengamanan dengan karya ilmiah terbanyak.
Rekor ini menjadi yang pertama dalam sejarah dunia pengamanan Indonesia pada kategori karya ilmiah.
Lebih dari sekadar piagam, penghargaan ini menjadi pengakuan bahwa profesi pengamanan memiliki ruang luas untuk berkembang secara intelektual.
Seragam tidak pernah menjadi penghalang untuk berpikir dan berkarya.
Inspirasi yang Menular
Capaian Anam mulai memberi dampak di lingkungan sekitarnya.
Rekan-rekan sesama satpam terdorong untuk kembali melanjutkan pendidikan, mengikuti pelatihan, bahkan mulai menulis pengalaman kerja mereka sendiri.
Budaya berbagi pengetahuan yang sebelumnya jarang terdengar, perlahan mulai tumbuh. (Alya Ruhadatul Nabilah Aisy)
Editor : Meitika Candra Lantiva