RADAR MALIOBORO - Belakangan ini, nama Jeffrey Epstein ramai dibicarakan di berbagai media internasional dan lokal serta perbincangan khalayak.
Bukan karena prestasi atau pencapaian, melainkan karena dokumen rahasia yang dikenal sebagai Epstein Files mulai dibuka ke publik.
Banyak nama orang terkenal ikut terseret, dari politisi, pebisnis, selebritas, sampai tokoh dunia.
Lalu, siapa sebenarnya Jeffrey Epstein ini? Dari mana dia berasal, bagaimana bisa masuk ke lingkaran elit dunia, dan kenapa kisah hidupnya berakhir dengan salah satu skandal terbesar abad ini?
Awal Kehidupan: Anak Pintar dari Keluarga Biasa
Melansir biography.com, Jeffrey Epstein lahir pada 20 Januari 1953 di Brooklyn, New York. Ia tumbuh di keluarga kelas menengah yang sederhana.
Ibunya bekerja paruh waktu di sekolah, sementara ayahnya adalah petugas taman kota. Tidak ada tanda-tanda bahwa Epstein kecil akan menjadi orang super kaya atau tokoh kontroversial di masa depan.
Namun, sejak muda Epstein dikenal sangat pintar. Ia bahkan melompati dua kelas dan lulus SMA di usia 16 tahun.
Meski sempat kuliah di Cooper Union dan New York University, Epstein tidak pernah benar-benar menyelesaikan pendidikannya dan tidak memiliki gelar resmi.
Anehnya, hal ini tidak menghalanginya untuk masuk ke dunia elite. Ia justru mulai membangun jalan hidupnya lewat kecerdasan dan relasi.
Dari Guru ke Dunia Keuangan
Pada tahun 1974, Epstein bekerja sebagai guru matematika dan fisika di Dalton School, sekolah elite di New York.
Di sinilah hidupnya mulai berubah.
Salah satu orang tua muridnya adalah Alan Greenberg, CEO Bear Stearns, perusahaan keuangan besar.
Greenberg melihat bakat Epstein dalam angka dan logika, lalu memberinya pekerjaan di Bear Stearns pada 1976.
Di perusahaan itu, Epstein naik cepat dan mulai menangani klien-klien super kaya. Namun, pada 1981 ia keluar dan mendirikan perusahaan sendiri.
Sejak saat itu, hidup Epstein dipenuhi misteri.
Ia sering mengaku sebagai konsultan keuangan eksklusif dan bahkan mengklaim bekerja untuk intelijen, klaim yang tidak pernah terbukti.
Meski begitu, gaya hidup dan koneksinya membuat banyak orang percaya bahwa ia bukan orang biasa.
Kekayaan Misterius dan Relasi Orang-Orang Kuat
Epstein mendirikan perusahaan bernama J Epstein & Company, yang katanya hanya melayani klien miliarder.
Salah satu klien terbesarnya adalah Leslie Wexner, bos besar Victoria’s Secret. Dari sinilah kekayaan Epstein semakin menggunung.
Namun, sampai sekarang tidak ada yang benar-benar tahu dari mana semua uang itu berasal.
Bahkan, Forbes meragukan klaim bahwa ia adalah miliarder.
Dengan kekayaannya, Epstein masuk ke lingkaran elite dunia.
Ia berteman dengan presiden, pangeran, pebisnis teknologi, selebritas, dan pengacara terkenal.
Hidupnya penuh jet pribadi, pesta mewah, dan properti mahal di berbagai tempat. Namun, di balik kemewahan itu, ada sisi gelap yang perlahan mulai terkuak.
Pulau, Ranch, dan Ide-Ide Aneh
Epstein membeli sebuah pulau di Kepulauan Virgin Amerika Serikat bernama Little St. James.
Pulau ini kemudian dikenal luas sebagai tempat terjadinya praktik perdagangan seks anak.
Banyak korban mengaku dibawa ke sana sejak usia sangat muda.
Pulau ini menjadi simbol paling kelam dari kejahatan Epstein.
Selain itu, Epstein juga memiliki sebuah ranch di New Mexico.
Di sana, ia diyakini punya obsesi aneh soal eugenika.
Ia ingin meninggalkan keturunan dengan cara menghamili banyak perempuan.
Ia juga tertarik pada ide membekukan bagian tubuhnya agar bisa hidup kembali di masa depan.
Semua ini memperkuat bahwa gambaran Epstein sebagai sosok dengan kekuasaan besar dan moral yang rusak.
Kasus Hukum: Dari Hukuman Ringan hingga Penangkapan Besar
Pada 2005, laporan orang tua korban mulai membuka tabir kejahatan Epstein.
Investigasi menemukan banyak korban, sebagian besar masih di bawah umur.
Namun, Epstein hanya dijerat dengan tuduhan ringan dan mendapat kesepakatan hukum yang sangat menguntungkan.
Ia hanya menjalani 13 bulan penjara dengan fasilitas longgar dan masih bisa bekerja di luar penjara.
Kesepakatan ini menuai kemarahan publik.
Bertahun-tahun kemudian terungkap bahwa jaksa saat itu mengaku dipaksa bersikap lunak karena Epstein disebut-sebut memiliki koneksi dengan pemerintah.
Meski begitu, pada 2019, Epstein kembali ditangkap atas tuduhan perdagangan seks anak secara federal dan kali ini tidak diberi jaminan.
Kematian yang Mengundang Kecurigaan
Pada Agustus 2019, Epstein ditemukan tewas di sel penjara saat menunggu persidangan.
Pemerintah menyatakan ia bunuh diri.
Namun, banyak kejanggalan muncul seperti kamera tidak berfungsi, penjaga tertidur, dan Epstein sebelumnya sempat berada dalam pengawasan khusus.
Semua ini memicu teori konspirasi besar di seluruh dunia.
Meski keluarga Epstein menduga pembunuhan, berbagai penyelidikan resmi, termasuk laporan FBI dan Departemen Kehakiman tetap menyimpulkan bahwa kematiannya adalah bunuh diri.
Pada 2025, laporan tambahan kembali menegaskan kesimpulan tersebut berdasarkan rekaman video penjara.
Epstein Files: Skandal yang Belum Selesai
Setelah kematian Epstein, publik mulai menuntut transparansi.
Dokumen-dokumen penyelidikan yang dikenal sebagai Epstein Files menjadi sorotan besar, apalagi saat isu ini masuk ke panggung politik Amerika.
Banyak pihak mendesak agar semua dokumen dibuka, demi keadilan bagi para korban.
Tekanan publik akhirnya membuahkan hasil.
Melansir britannica.com, undang-undang khusus disahkan untuk membuka dokumen Epstein.
Ribuan hingga jutaan halaman dirilis, termasuk foto, email, dan catatan penerbangan.
Namun, banyak bagian masih disensor, dan korban justru merasa kembali disakiti karena identitas mereka bocor, sementara pelaku berkuasa tetap terlindungi.
Nama-Nama Besar dan Kontroversi
Dokumen-dokumen tersebut memunculkan banyak nama terkenal dari dunia politik, bisnis, dan hiburan.
Penting dicatat bahwa munculnya nama tidak otomatis berarti bersalah.
Namun, fakta bahwa begitu banyak orang berpengaruh tercatat memiliki keterkaitan dengan Epstein membuat publik semakin marah dan curiga.
Dalam dokumen Epstein Files, muncul nama-nama besar dari berbagai bidang, seperti Presiden AS Donald Trump, Pangeran Inggris Andrew Mountbatten-Windsor, pendiri Microsoft Bill Gates, salah satu pendiri Google Sergey Brin.
Kemudian aktor Kevin Spacey, hingga tokoh bisnis dan hukum seperti Howard Lutnick, Steven Tisch, Alan Dershowitz, dan Kathryn Ruemmler.
Para penyintas terus bersuara, menuntut keadilan yang nyata, bukan sekadar pembukaan dokumen.
Mereka menegaskan bahwa skandal Epstein bukan hanya tentang satu orang jahat, tapi tentang sistem kekuasaan yang membiarkan kejahatan terjadi selama bertahun-tahun. (Alya Ruhadatul Nabilah Aisy)
Editor : Meitika Candra Lantiva