SLEMAN – Aktivitas vulkanik Gunung Merapi masih berada pada tingkat tinggi. Berdasarkan laporan resmi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) periode pengamatan 25 Februari 2026 pukul 00.00–24.00 WIB, tercatat 84 kali gempa guguran serta 51 kali gempa hybrid/fase banyak. Status gunung api ini tetap Level III (Siaga).
Gunung Merapi yang berada di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta (Sleman) dan Jawa Tengah (Magelang, Boyolali, Klaten) setinggi 2.968 mdpl mengalami cuaca mendung dengan angin lemah hingga tenang ke arah timur. Suhu udara berkisar 17–22,6 °C, kelembaban 81,7–100 %, tekanan udara 869,3–915,7 mmHg, dan curah hujan mencapai 39 mm sehari.
Secara visual, gunung tertutup kabut intensitas 0-III dan asap kawah tidak teramati. Tidak ada laporan kegiatan lain yang signifikan.
Kegempaan didominasi oleh:
Gempa Guguran: 84 kali, amplitudo 2–51 mm, durasi 42,33–197,19 detik.
Gempa Hybrid/fase banyak: 51 kali, amplitudo 2–44 mm, S-P 0,3–0,9 detik, durasi 10,15–62,19 detik.
BPPTKG menyatakan suplai magma masih berlangsung, sehingga berpotensi memicu awan panas guguran (APG) di dalam zona bahaya. Potensi bahaya utama meliputi guguran lava dan awan panas di sektor selatan-barat daya (Sungai Boyong maksimal 5 km; Sungai Bedog, Krasak, Bebeng maksimal 7 km), sektor tenggara (Sungai Woro maksimal 3 km; Sungai Gendol 5 km). Lontaran material vulkanik eksplosif dapat mencapai radius 3 km dari puncak.
Masyarakat diimbau tidak melakukan aktivitas di daerah potensi bahaya, mewaspadai bahaya lahar dan APG terutama saat hujan, serta mengantisipasi gangguan abu vulkanik. Jika terjadi perubahan aktivitas signifikan, status akan segera dievaluasi ulang.
Laporan ini disusun oleh Ngadiyo dan Tri Mujiyanta dari BPPTKG, berdasarkan data Kementerian ESDM, Badan Geologi, PVMBG. Informasi lengkap dapat diakses melalui https://magma.esdm.go.id/v1/gunung-api/laporan serta media sosial resmi PVMBG. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin