Oleh: Endro Dwi Hatmanto, Dosen di Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris UMY
RADAR MALIOBORO - Sepuluh malam terakhir Ramadan selalu terasa seperti “final lap”.
Banyak orang yang tadinya biasa-biasa saja mendadak serius: masjid lebih hidup, doa lebih panjang, hati lebih mudah tersentuh.
Alasannya sederhana: Allah menyimpan satu hadiah yang tidak dibagikan sembarang waktu, Lailatul Qadar.
Menariknya, Allah tidak berkata “setiap malam nilainya sama besar”, tetapi memilih satu malam yang melampaui hitungan manusia. Pesannya halus tapi tegas: dalam pandangan Allah, nilai bukan ditentukan oleh lamanya waktu, melainkan kualitasnya.
Al-Qadr membuka dengan kalimat yang megah: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan… Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 1–3).
Kemuliaan malam itu bukan sekadar “pahala besar”, tetapi karena ia terkait dengan turunnya wahyu, cahaya yang mengubah arah manusia. Kata “qadr” sendiri memuat makna kemuliaan, ketetapan, sekaligus ukuran: Allah sedang mengajari kita standar ukur yang berbeda.
Sebuah malam beberapa jam bisa mengalahkan umur panjang yang penuh rutinitas, bila hatinya hadir.
Di dunia modern, kita mudah mabuk angka: berapa rakaat, berapa juz, berapa jam, berapa target.
Padahal angka tanpa hadirnya hati bisa menjadi kebisingan rohani.
Annie Dillard menulis singkat: “Cara kita menjalani hari adalah cara kita menjalani hidup.” (Dillard, 1989).
Lailatul Qadar seperti mengoreksi kebiasaan kita: jangan hanya menambah aktivitas, tetapi rapikan perhatian.
Cal Newport bahkan merumuskan produktivitas berkualitas begini: “Kerja bermutu tinggi = waktu × intensitas fokus.” (Newport, 2016). Prinsip itu relevan untuk ibadah: satu jam qiyamul-lail dengan fokus, tadabbur, dan rasa butuh kepada Allah bisa lebih bernilai daripada panjangnya ibadah yang pikiran ke mana-mana.
Karena itu Rasulullah ﷺ mengajarkan doa inti pada malam ini bukan daftar permintaan dunia, melainkan permohonan ampun: “Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku.” (HR. at-Tirmidzi). Di malam kualitas, yang paling dibutuhkan adalah hati yang bersih.
Lalu apa yang bisa kita lakukan secara praktis di sepuluh malam terakhir?
Pertama, pilih “blok hening” setiap malam—30 sampai 60 menit tanpa gawai, tanpa obrolan, tanpa multitasking—untuk salat, tilawah, dan doa yang pelan tapi dalam.
Kedua, ubah tilawah menjadi pertemuan: baca sedikit, pahami sedikit, minta dituntun sedikit.
Ketiga, perbanyak istighfar dan memaafkan; sebab orang yang memohon ampun tetapi enggan memaafkan sering membawa beban yang sama beratnya.
Jika terasa berat, ingat: Allah membuka pintu kualitas bagi siapa pun yang kembali.
Pada akhirnya, Lailatul Qadar mengajari kita bahwa Allah memuliakan kualitas: niat yang lurus, hati yang hadir, dan amal yang tepat sasaran.
Semoga kita dipertemukan dengan malam itu, bukan hanya lewat angka ibadah yang kita hitung, tetapi lewat kedalaman yang Allah terima.
Editor : Meitika Candra Lantiva