Yogyakarta – Kebijakan larangan penggunaan ponsel pintar di sekolah-sekolah Belanda selama dua tahun terakhir menuai hasil positif.
Banyak pihak di Indonesia, termasuk di Yogyakarta, mulai melirik kebijakan ini sebagai inspirasi untuk mengurangi distraksi belajar siswa.
Dua tahun lalu, pemerintah Belanda memberlakukan aturan ketat: ponsel pintar, jam tangan pintar, hingga tablet dilarang digunakan di ruang kelas, koridor, maupun kantin sekolah di seluruh negeri.
Tujuannya jelas, yaitu mengurangi distraksi, meningkatkan konsentrasi siswa, serta mendorong prestasi akademis yang lebih baik.
Menurut laporan awal, sebagian siswa mengaku aturan ini “menyebalkan”.
Namun, mereka juga mengakui bahwa kini lebih fokus memperhatikan penjelasan guru di kelas.
Sementara siswa lainnya mengatakan tidak merasakan dampak negatif sama sekali dari kebijakan tersebut.
Studi awal yang melibatkan 317 sekolah menunjukkan hasil positif signifikan.
Siswa menjadi lebih konsentrasi, interaksi di kelas meningkat, dan prestasi belajar pun terlihat membaik.
Di Indonesia, isu ponsel di sekolah sering menjadi perdebatan.
Banyak sekolah di Yogyakarta dan daerah lain sudah memberlakukan aturan serupa, meski masih ada tantangan dalam penerapannya.
Beberapa orang tua dan guru berharap kebijakan seperti di Belanda bisa menjadi referensi untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih kondusif.
“Anak-anak sekarang lebih mudah terganggu oleh notifikasi dan media sosial. Kalau bisa seperti di Belanda, mungkin konsentrasi mereka akan lebih baik,” ujar salah seorang guru di Yogyakarta yang enggan disebut namanya.
Kebijakan Belanda ini menjadi contoh bahwa membatasi gadget di lingkungan pendidikan bisa membawa manfaat nyata.
Bagi pendidikan di Indonesia, khususnya Jogja yang dikenal sebagai kota pelajar, keberhasilan ini patut dikaji lebih dalam.
Bagaimana pendapat Anda? Apakah sekolah-sekolah di Yogyakarta perlu memperketat aturan ponsel? (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin