Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Gempa Bumi Dahsyat Berkekuatan Magnitudo 7,6 di Bitung, Sulawesi Utara, Termasuk Gempa Megathrust Dangkal Akibat Subduksi Laut Maluku

Iwa Ikhwanudin • Kamis, 2 April 2026 | 14:34 WIB
Sejumlah orang di dekat reruntuhan gedung KONI Sario Manado, Sulawesi Utara, pascagempa bumi, Kamis (2/4/2026). (ANTARA/Karel A Polakitan)
Sejumlah orang di dekat reruntuhan gedung KONI Sario Manado, Sulawesi Utara, pascagempa bumi, Kamis (2/4/2026). (ANTARA/Karel A Polakitan)

Sulawesi Utara – Gempa bumi dahsyat berkekuatan magnitudo (M) 7,6 mengguncang wilayah perairan tenggara Bitung, Sulawesi Utara, pada Kamis (2/4/2026) pagi sekitar pukul 05.48 WIB.

Guncangan kuat yang tergolong dalam kategori gempa megathrust ini tidak hanya dirasakan di Sulawesi Utara, tetapi juga hingga ke sejumlah wilayah di Maluku Utara dan Gorontalo. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) langsung mengeluarkan peringatan dini tsunami yang berlangsung hingga pukul 09.56 WITA, sebelum akhirnya dinyatakan berakhir setelah pemantauan menunjukkan kondisi laut kembali stabil.

Berdasarkan analisis BMKG, pusat gempa berada pada koordinat 1,25 Lintang Utara dan 126,27 Bujur Timur, tepatnya di laut pada jarak sekitar 129 kilometer arah tenggara Kota Bitung, dengan kedalaman 62 kilometer.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono, menjelaskan bahwa gempa ini merupakan jenis gempa dangkal yang tergolong ke dalam kategori megathrust, yang diakibatkan oleh aktivitas deformasi kerak bumi dengan mekanisme pergerakan naik (thrust fault) di zona subduksi Laut Maluku.

Baca Juga: Wanita di China Nekat Mau Mengakhiri Hidup dari Pinggir Gedung, Tolak Lepas HP Saat Diselamatkan Petugas

"Memang ini dangkal dan termasuk megathrust. Gempa naik itu berpotensi timbulkan tsunaminya sangat tinggi dibandingkan mekanisme mendatar," ujar Rahmat dalam konferensi pers, Kamis (2/4/2026).

Guncangan gempa dirasakan sangat kuat hingga mencapai intensitas V-VI MMI di Kota Ternate, Maluku Utara, menyebabkan kepanikan warga yang berhamburan keluar rumah. Sementara di Manado, getaran mencapai IV-V MMI, dan di Gorontalo Utara tercatat intensitas II-III MMI.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyatakan bahwa peringatan dini tsunami resmi diakhiri pada pukul 09.56 WITA. "Peringatan dini tsunami yang disebabkan oleh gempa magnitudo 7,6 dinyatakan telah berakhir. Dengan begitu tim petugas gabungan sudah bisa masuk ke lokasi-lokasi terdampak gempa sekaligus tsunami ini," ujarnya dalam konferensi pers.

Meskipun peringatan telah berakhir, BMKG mencatat bahwa gelombang tsunami sempat terdeteksi di beberapa wilayah dengan ketinggian bervariasi. Berdasarkan pemantauan alat ukur muka air laut, tsunami setinggi 0,3 meter terjadi di Halmahera Barat pada pukul 06.08 WIB, 0,2 meter di Bitung pukul 06.15 WIB, serta gelombang tercatat di Sidangoli (0,35 meter), Minahasa Utara (0,75 meter), dan Belang (0,68 meter).

Baca Juga: Trump Sebut Obama Kirim Uang Tunai Rp25 Triliun ke Iran Pakai Palet Pesawat, Disebut Biayai Terorisme dan Nuklir

Wilayah yang sebelumnya masuk dalam status siaga tsunami meliputi Kota Ternate, Halmahera, Tidore, Kota Bitung, Minahasa Selatan, dan Minahasa Utara. Sementara status waspada juga diberlakukan untuk wilayah Kepulauan Sangihe dan Bolaang Mongondow.

Hingga pukul 09.50 WIB, BMKG mencatat telah terjadi 48 kali gempa susulan (aftershock) dengan magnitudo terbesar mencapai 5,5. Aktivitas seismik ini masih terus berlangsung dan masyarakat diimbau untuk tetap waspada.

Rahmat Triyono menegaskan bahwa BMKG telah mengirim tim ahli ke wilayah Maluku Utara dan Sulawesi Utara untuk melakukan survei dampak gempa, termasuk pemetaan makroseismik dan mikroseismik. Tim juga akan memasang peralatan portable seismograph di sejumlah titik untuk memperkuat pemantauan aktivitas seismik.

"Meski tidak selalu berdampak besar, gempa-gempa kecil ini menjadi indikator penting dalam analisis aktivitas seismik," kata Rahmat.

Baca Juga: Hotel Legendaris di Malioboro Yogyakarta Kini Berganti Nama dan Berbintang Lima, Arsitektur Kolonial Memadukan Keanggunan Eropa dengan Estetika Jawa

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan adanya sejumlah kerusakan infrastruktur akibat gempa. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengidentifikasi bahwa satu unit tempat ibadah (gereja) di Kecamatan Pulau Batang Dua, Kota Ternate, serta dua unit rumah di Kelurahan Ganbesi, Kecamatan Ternate Selatan, mengalami kerusakan.

Selain itu, Gedung Koni dan lapangan olahraga Sario di Kota Manado dilaporkan runtuh akibat guncangan gempa. Peristiwa ini mengakibatkan seorang wanita berusia 71 tahun yang merupakan penjaja jajanan di sekitar lokasi tewas. Korban langsung dievakuasi ke RS Bhayangkara Polda Sulut.

Pasca gempa, masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi gempa susulan serta menjauhi area pantai dan bangunan yang mengalami retakan atau kerusakan sebelum dipastikan aman oleh tim petugas gabungan.

Pelaksana Harian (Plh) Direktur Seismologi Teknik - Geopotensial BMKG, Fakhri, mengingatkan masyarakat untuk tidak memasuki bangunan yang mengalami kerusakan. "Jadi sangat perlu dicek kondisi struktur bangunan, terutama jika terdapat retakan atau tanda-tanda tidak stabil," ujarnya.

Baca Juga: Duta "Ngopo" Diamankan Polresta Yogyakarta, Pelaku Viral di Jalan Kerto Umbulharjo Jalani Proses Hukum

Abdul Muhari juga mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, mengikuti arahan dari aparat setempat, serta tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. "Pemantauan dan pembaruan informasi akan terus dilakukan sesuai perkembangan situasi di lapangan," ujarnya.

BMKG memastikan bahwa hingga saat ini pemantauan terus dilakukan dan masyarakat diminta hanya mengacu pada informasi resmi dari BMKG, BNPB, dan pemerintah daerah untuk menghindari kepanikan akibat hoaks. (iwa)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#gempa megathrust #Subduksi Laut Maluku #gempa sulawesi utara #bmkg gempa sulawesi utara #megathrust